API: Batalkan Rencana Kenaikan TDL

Kompas.com - 11/03/2010, 15:57 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Asosiasi Pertekstilan Indonesia atau API
mendesak pemerintah membatalkan kenaikan tarif dasar listrik atau TDL
yang berpotensi semakin menggerus daya saing industri dalam negeri
yang berujung pada pemutusan hubungan kerja atau PHK.

"Kalau TDL dinaikkan, itu akan kontraproduktif dengan upaya meningkatkan daya saing industri. Kami ibarat sudah jatuh tertimpa tangga," kata Ketua Umum API Benny Soetrisno seusai pembukaan International Furniture and Craft Fair Indonesia 2010 di JI Expo Kemayoran, Jakarta, Kamis (11/3/2010).

Karena itu, API telah meminta pemerintah mengadakan rapat dengan pengusaha untuk membahas rencana kenaikan TDL itu.

Industri TPT merupakan sektor yang sangat terpengaruh dampak kenaikan TDL mengingat penggunaan listriknya sekitar 20-50 persen dari total biaya produksi.

"Saya minta diadakan rapat besok di Kantor Menko Perekonomian soal kenapa listrik harus naik. Targetnya TDL tidak naik," ujarnya.

Benny Soetrisno mengusulkan adanya perubahan pola subsidi listrik agar diutamakan pada rakyat kecil yang menggunakan listrik 450 watt per bulan dan industri saja.

"Konsumen industri 450 watt dan industri tarifnya seharusnya lebih murah dari konsumsi seperti mal dan kantor," katanya.

Benny mengingatkan pemerintah bahwa kenaikan TDL seharusnya dibahas terlebih dahulu dengan DPR untuk mendapatkan persetujuan.

Kenaikan TDL, kata Benny, mengharuskan industri melakukan efisiensi biaya produksi yang bisa berujung pada PHK.

"Tarif multiguna dan daya maksimum untuk industri itu salah, itu men-discourage orang untuk mencetak lapangan kerja. Apalagi sekarang menjelang 1 Mei (hari buruh), ini ada rasa waswas pekerja kena PHK. Ini bisa jadi gerakan masif yang bolanya jadi politis," tuturnya.

Benny mengungkapkan bahwa pengusaha dan PLN akan melakukan pertemuan informal untuk menghitung kemungkinan penghapusan daya maksimum dan tarif multiguna pada Kamis sore ini.

Benny mengharapkan adanya penyelesaian yang saling menguntungkan antara PLN dan industri. "Kami mau menghitung, daya maksimal dan tarif multiguna dihilangkan posisinya bagaimana, dia juga kehilangan income, kami diperkuat di mananya," ujarnya.

Menurut Benny, PLN sebenarnya menyanggupi untuk tidak menaikkan TDL, asalkan mendapat pasokan bahan baku dari pemerintah.

"Contohnya, batu bara itu royalti pemerintah kan 13,5 persen, tapi diterima dalam bentuk uang. Lebih baik 13,5 persen itu berikan saja pada PLN," tuturnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau