Karimunjawa: It's Paradise!

Kompas.com - 11/03/2010, 16:02 WIB

KOMPAS.com - Perjalanan ini telah berlalu lebih dari satu setengah tahun yang lalu. Lebih tepatnya, perjalanan ke Karimunjawa saya lakukan pada tanggal 16-20 Mei 2008. Yang membuat perjalanan ini sangat spesial, pertama adalah saya menemukan sahabat-sahabat baru yang memiliki kesamaan hobi dimana pada akhirnya kami sepakat untuk membentuk suatu komunitas kecil bernama Saik Genggong dengan satu tujuan: berwisata laut terus dan terus!!

Kedua, Karimunjawa menawarkan wisata laut yang eksotik. Ia memiliki taman bawah laut yang indah dan saya senang dengan lingkungan di Karimunjawa yang masih asri dan belum dijamah oleh banyak orang, tidak seperti Bali yang sudah sangat ramai dan padat. Dengan demikian, ia layak dipandang sebagai masih ‘perawan’. Lautnya masih sangat bersih, dan lingkungannya sangat jauh dari hiruk pikuk pembangunan. Masyarakat di Karimunjawa banyak menggantungkan diri kepada mata pencarian sebagai nelayan.

Bagi saya, Karimunjawa merupakan ‘mutiara terpendam’ Pulau Jawa. Hanya membutuhkan polesan sedikit maka ia akan mengkilat, polesan itu adalah pengembangan infrastruktur dan pemasaran yang baik. Saya akan sangat bahagia jika Karimunjawa pada akhirnya bisa menjadi salah satu unggulan pariwisata Indonesia.

Perjalanan ke Karimunjawa diorganisasikan oleh Mata Indonesia dengan koordinatornya Mas Ocon dan Mba Ari. Perjalanan ke Karimunjawa kami tempuh melalui jalan darat dengan menggunakan bus. Titik temu kami ada di Terminal Rawamangun, dan tepat pada sekitar pukul 20.30 WIB kami berangkat dari Terminal Rawamangun menuju Pelabuhan Kartini di Jepara. Total waktu tempuh antara Rawamangun dan Pelabuhan Kartini adalah sekitar 11 jam! memang melelahkan dan lumayan membuat pantat jadi mati rasa namun dengan keindahan wisata yang ditawarkan Karimunjawa nantinya, saya selalu menyakini bahwa itu worth a gamble. Dari Pelabuhan Kartini, selanjutnya kita menyebrang ke Karimunjawa dengan Feri selama kurang lebih 8 jam. Sebetulnya terdapat moda transportasi penyeberangan lain yang lebih cepat, yaitu kapal cepat dari Pelabuhan Semarang, jika menaiki kapal cepat itu hanya akan memakan waktu antara 2-3 jam. Hanya saja tentu dengan biaya yang agak mahal.

Di Karimunjawa, kami menginap di Wisma Apung. Wisma Apung terletak di atas laut dan tidak begitu jauh dari daratan, mungkin hanya sekitar 2 km. Yang membuat Wisma Apung istimewa adalah karena letak dia di atas laut memudahkan kita untuk berenang kapanpun kita mau. Tinggal keluar kamar lalu langsung nyebur ke laut. Kemudian, di Wisma Apung listrik baru dapat digunakan ketika malam hari karena pasokan listrik hanya dapat diberikan dari generator berbahan bakar solar. Tidur di malam hari adalah pengalaman menarik lainnya di Wisma Apung karena begitu dingin. Dingin ini bukan ditimbulkan dari AC melainkan karena angin laut yang selalu berderu kencang di malam hari, dengan demikian yang terbaik adalah kita harus siap-siap celana panjang training atau sarung jika ingin menginap di Wisma Apung.

Keesokan hari setelah kami sampai, kami langsung mengunjungi sekaligus snorkeling di tiga tempat, yaitu Pulau Tanjung Gelam, Pulau Mejangan dan Pulau Cemara Kecil.

Pulau Tanjung Gelam dan Pulau Mejangan menawarkan taman bawah laut yang indah. Pasir disini begitu putih, dan air laut begitu jernih hingga kaki kita pun bisa terlihat dengan sangat jernih ketika berenang di tepian, tidak ada sampah sekalipun di pulau tersebut dan rasanya betul-betul bagaikan di nirwana (paradise) karena pemandangan sekitar membuat hati begitu tenang. Saya dan teman-teman bertingkah laku bagaikan anak kecil yang mendapatkan hadiah mainan ketika ulang tahunnya, kami berteriak girang, saling memuji tempat yang kami kunjungi dan tanpa henti mengabadikan diri kami di tempat itu ke dalam jeprat jepret foto yang tiada henti.

Pulau Cemara Kecil menawarkan tempat yang apik untuk dijadikan lokasi pemotretan. Bahkan Pulau Cemara Kecil mungkin adalah the best spot untuk berfoto ria dibandingkan pulau lainnya. Disana kami berfoto dengan berbagai pose, dari gaya melompat, gaya jungkir balik, gaya jayus, sampai gaya apapun kami coba. Saya sendiri menghabiskan waktu sekitar 15-20 menit untuk tiduran dan mencoba menikmati alam yang sedang saya kagumi ini. Dalam hati saya mengatakan bahwa saya bersyukur bisa menikmati keindahan seperti ini dengan teman-teman baru yang asyik-asyik pula.

Seperti Pulau Tanjung Gelam dan Pulau Mejangan, pasir di Pulau Cemara begitu putih dan air begitu jernih tanpa sampah sekalipun, saking bersihnya kami sampai tidak ‘tega’ untuk membuang sampah plastik kemasan makanan ringan kami.  Ketika waktu menjelang sore kamipun harus ‘rela’ untuk kembali ke Wisma Apung dengan berat hati.

Dalam perjalanan balik ke Wisma Apung, kami menyempatkan diri untuk mampir ke peternakan hiu yang letaknya tidak begitu jauh dari Wisma Apung. Hiu disini jinak-jinak sehingga memungkinkan kita untuk berenang di kolam tersebut. Satu-satunya kolam yang dilarang untuk digunakan berenang adalah kolam Baracuda mengingat Baracuda adalah ikan yang ganas dan tidak bisa dijinakkan. Lucu juga rasanya ketika berenang di tengah sekawanan hiu tanpa mendapatkan ‘gangguan’ apapun. Hiu tersebut dengan cuek melalang melintang di depan saya seakan-akan ini adalah “lu lu gua gua”.

Ketika dalam perjalanan pulang, saya merasakan hati saya tertinggal di Karimunjawa, “I left my heart at Karimunjawa”, saya selalu mengingat perjalanan ke Karimunjawa adalah perjalan terbaik saya sampai saat ini. Sampai saat ini pun,  saya tidak pernah lelah untuk berhenti bercerita kepada teman-teman saya betapa indahnya Karimunjawa. Belum ada satu pun tempat yang menawarkan keindahan sama dengan yang ditawarkan Karimunjawa. Suatu saat nanti saya dan teman-teman berjanji untuk kembali ke Karimunjawa dan mencoba untuk menjelajah pulau lainnya selain Pulau Tanjung Gelam, Pulau Mejangan dan Pulau Cemara Kecil.

Karimunjawa, trust me it’s paradise!! (Tito Dipokusumo)

 

Artikel lainnya bisa dilihat di http://wisata.kompasiana.com

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau