Bendungan air

Teknologi Bribin Jadi Percontohan

Kompas.com - 12/03/2010, 04:00 WIB

Gunung Kidul, Kompas - Bendungan air bawah tanah pertama di dunia diresmikan di Gunung Kidul, DI Yogyakarta, Kamis (11/3). Proyek Bribin II berhasil mengangkat air dengan debit maksimal 80 liter per detik dari sungai bawah tanah Goa Bribin menuju bak penampung utama setinggi 250 meter. Teknologi Bribin II dinilai layak untuk percontohan pengangkatan air di wilayah karst lain.

Peresmian Proyek Bribin II dihadiri Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Gubernur DI Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X, Bupati Gunung Kidul Suharto, perwakilan Pemerintah Jerman, dan peneliti dari Institut Teknologi Karlsruhe, Jerman. ”Investasi bendungan bawah tanah memang mahal, tetapi operasionalnya sangat murah,” kata Djoko. Ongkos memompa air dengan teknologi mikrohidro bendungan bawah tanah ini nol rupiah.

Pemerintah Jerman mengeluarkan dana 3,2 juta euro untuk pengadaan lift, pipa, turbin, pompa, dan pembangunan bendungan bawah tanah. Indonesia mengalokasikan Rp 35 miliar.

”Program pengelolaan air di Bribin adalah yang pertama di dunia. Semua rasa frustrasi saat mengembangkan teknologi baru terobati hari ini,” kata Guru Besar Institut Teknologi Karlsruhe Franz Nestmann.

Menurut Djoko, teknologi pengangkatan air di Goa Bribin akan diadopsi untuk penyelesaian krisis air di wilayah karst lain yang meliputi 15,4 juta hektar di Indonesia. Proyek Bribin II diharapkan dapat menjadi laboratorium lapangan untuk penelitian pada masa mendatang.

Pada saat peresmian, warga di sekitar Goa Bribin, Semanu, berkerumun menyaksikan semburan air dari pipa yang berwarna merah-putih serta merah-kuning-hitam sebagai warna bendera Indonesia dan Jerman. Namun, warga mempertanyakan aliran air Proyek Bribin II ke rumah warga yang belum maksimal. Pengangkatan air belum diikuti perbaikan jaringan pipa.

Ngateman, warga Dusun Sepon, dan Pawirorejo, warga Dusun Plebengan Kidul, mengeluh, jaringan pipa belum sampai ke rumah mereka yang berjarak 2 kilometer dari bak penampung utama. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, warga mengandalkan tampungan air hujan dan membeli air Rp 110.000 per tangki isi 5.000 liter.

Camat Semanu Suhardi menyatakan, delapan dusun dengan 800 keluarga masih belum terjangkau sambungan air. Dia berharap keberhasilan Bendung Goa Bribin dapat diikuti pembangunan jaringan pipa baru. Kepala Satuan Kerja Pengembangan Air Minum DI Yogyakarta Hardjono mengatakan, jaringan pipa akan dibangun bertahap oleh PDAM Gunung Kidul. Aliran air tahap pertama menjangkau 6.700 sambungan rumah. (WKM)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau