Kesibukan Boediono di Tengah Sorotan

Kompas.com - 12/03/2010, 06:45 WIB

KOMPAS.com - Di tengah sorotan skandal Bank Century pasca-Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat, Wakil Presiden Boediono tetap menjalankan tugas rutin di pemerintahan. Ia bahkan kian sibuk sebab merangkap sebagai pelaksana tugas Presiden. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tengah berkunjung ke Australia dan Papua Niugini.

Kamis (11/3/2010) kemarin, di Jakarta, Boediono bertemu pelajar dan warga miskin. Apakah ia ingin mengambil hati rakyat? Mantan Gubernur Bank Indonesia saat kasus Bank Century itu terjadi tentu tak berniat begitu.

Boediono mengawali kegiatannya dengan bersilaturahim dengan perwakilan pelajar se-DKI Jakarta Utara di SMA Negeri 40 Pademangan. Selain memberikan pengarahan, Boediono juga mencoba berdialog soal pendidikan. Ia membawa tujuh anggota direksi bank pemerintah yang memberikan bantuan Rp 25 juta-Rp 50 juta per sekolah.

Selanjutnya, Boediono mengunjungi pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) di Tambora, Jakarta Barat. Selain melihat layanan kesehatan warga miskin, ia juga melihat kegiatan kaum ibu di pos pelayanan terpadu (posyandu) dan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional serta ibu-ibu PKK.

Pemeriksaan ketat

Sebelum berangkat dengan bus, wartawan peliput kegiatan Wapres harus menjalani pemeriksaan ketat dari seorang anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Bahkan, bukan hanya tubuh wartawan, tetapi tas bawaan juga diperiksa.

Tas wartawan diperiksa di atas bus, yang sudah ditinggalkan di kursi, karena adanya pemeriksaan mendadak Paspampres. Sementara wartawan yang sebelumnya sudah naik ke bus yang diparkir di depan rumah dinas Wapres di Jalan Diponegoro diminta turun dan diperiksa satu per satu sebelum naik kembali ke atas bus.

”Karena teman-teman akan meliput kegiatan Wapres dan masuk ke Ring 1 atau wilayah VVIP, sesuai dengan prosedur pengamanan, teman-teman dan tas bawaan harus diperiksa dulu,” ujar seorang perwira TNI Angkatan Darat yang saat itu menjabat sebagai komandan kompleks.

Selain wartawan, Kepala Biro Pers dan Media Massa Wapres Isbudi Santoso serta sejumlah anggota staf Biro Pers, yang sebelumnya duduk di bus, juga turun dan meninggalkan tas bawaan mereka.

Sejumlah wartawan mengakui, pemeriksaan terhadap yang ikut dalam kunjungan Wapres, meski naik bus yang berbeda dengan bus yang ditumpangi Wapres dan menteri, baru pertama kali terjadi selama peliputan di Istana Wapres. Bahkan, mungkin baru terjadi sejak era reformasi.

Di Kantin Kejujuran SMA Negeri 40 Pademangan, Boediono menuliskan kata-kata yang bijak. ”Kejujuran adalah bagian dari watak pemimpin bangsa. Lanjutkan! Kantin Kejujuran”. Pesan itu ditulis di atas kertas putih sebelum meninggalkan SMAN 40.

Kantin kejujuran adalah proyek percontohan peningkatan kejujuran di DKI Jakarta dan di Indonesia. Di SMAN 40, kantin baru itu terbentuk awal Maret lalu sebelum kedatangan Wapres. Di kantin itu, siswa membeli dengan mengambil makanan sendiri, membayar sendiri, dan mengambil uang kembalian sendiri tanpa penjaga kantin.

Boediono juga santai saat berpidato di Puskesmas Tambora. Namun, tiba-tiba seekor kucing gendut berwarna kuning tenang melintas di depan podium.

Meski hanya seekor kucing, Wapres menghentikan pidatonya. ”Seekor kucing juga ingin berkunjung ke puskesmas. Tampaknya hamil. Sayangnya, tidak ikut KB di puskesmas,” kelakar Boediono. (suhartono)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau