Pendidikan vokasi

Politeknik Laris Manis

Kompas.com - 12/03/2010, 19:17 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com - Tingginya permintaan dunia kerja terhadap lulusan politeknik memaksa sebagian lembaga ini menambah kelas dalam penerimaan mahasiswa baru (PMB) 2010, seperti yang terjadi di Surabaya, Jawa Timur.

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) ITS, misalnya, termasuk politeknik yang kebanjiran peminat. PPNS ITS kini menambah satu kelas lagi untuk prodi D4 Teknik Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

"Sekarang semua perusahaan harus memiliki tenaga ahli K3. Jadi, bisa dibayangkan betapa besar peluang kerja ini. Permintaan tenaga ini tak hanya di Indonesia, melainkan juga dari sejumlah negara di Timur Tengah," ujar Direktur PPNS Mahfud, di Surabaya, Kamis (11/3/2010).

Selain D4 K3, PPNS juga membina mahasiswa jurusan Teknik Bangunan Kapal, Teknik Permesinan Kapal, dan Teknik Kelistrikan Kapal. "PPNS bukan sekolah pelayaran. Kami justru mencetak ahli di banyak bidang yang selama ini pendidikannya baru ada di PPNS," tegas Mahfud.

Prodi D4 Teknik Pengelasan dan D4 Teknik Perpipaan adalah beberapa prodi spesifik yang hanya bisa ditemui di PPNS. Tahun ini, PPNS membuka pendaftaran PMB melalui jalur PMDK dan reguler. Jalur PMDK alias bebas tes dibuka dua gelombang. Gelombang pertama ditutup 20 Februari 2010, sedangkan gelombang dua dibuka 15 Maret-27 Mei 2010.

Sementara itu, jalur pendaftaran reguler lewat Ujian Masuk Politeknik Nasional (UMPN) dibuka 31 Mei-1 Agustus 2010. Khusus untuk jalur PMDK gelombang pertama, mereka yang bisa menunjukkan keterangan tidak mampu, berhak menerima beasiswa Bidik Misi dari Kementrian Pendidikan Nasional (Kemendiknas).

Tahun ini, PPNS memberikan beasiswa Bidik Misi kepada 50 mahasiswa. Pada pendaftaran PMDK gelombang pertama, tercatat ada 610 pendaftar. Mereka akan diseleksi sehingga tinggal 150 mahasiswa yang diterima, termasuk 50 orang yang menerima beasiswa tersebut.

Minat meningkat

Politeknik Elektro Negeri Surabaya (PENS) ITS tahun ini juga membuka peluang PMB lebih luas dengan menambah kelas baru. Direktur PENS ITS Dadet Pramadinanto menyatakan, tahun ini pihaknya menambah satu kelas untuk D4 Teknik Mekatronika.

"Ini karena meningkatnya permintaan output dari poltek di sini. Stake holder banyak yang memburu lulusan kami, sehingga minat calon mahasiswa juga meningkat," ujar Dadet.

Prodi D4 Teknik Mekatronika membekali mahasiswa dengan teknologi mekanik elektronika, robotika, dan otomasi industri. Sebelumnya, satu kelas di prodi ini hanya terdiri dari 30 mahasiswa. Tahun ini, D4 Teknik Makatronika sudah punya dua kelas.

Selain D4 Teknik Mekatronika, prodi lain yang juga telah punya dua kelas di PENS ITS adalah D3 dan D4 Elektronika, D3 dan D4 Teknik Telekomunikasi, D3 dan D4 Teknik Elektro Industri, dan D3 dan D4 Teknik Informatika. Sedangkan prodi termuda, D4 Teknik Komputer dan D3 Teknologi Multimedia Broadcasting, masing-masing baru punya satu kelas.

Selain itu, tahun ini PENS ITS juga menambah beberapa laboratorium baru termasuk tiga laboratorium teknik komputer, dua laboratorium mekatronika, serta empat laboratorium multimedia untuk studio tv, radio, dan fotografi.

Jalur pendaftaran PENS ITS tahun ini dapat ditempuh melalui jalur PMDK. Untuk jalur reguler melalui Ujian Masuk PENS (UMPENS) dan Ujian Masuk Politeknik Nasional (UMPN) dengan biaya pendaftaran Rp 250.000.

Politeknik yang menjadi langganan juara Kontes Robot Indonesia ini juga memberi kesempatan kuliah gratis bagi 100 calon mahasiswa dari keluarga tidak mampu melalui program Bidik Misi. Peserta program beasiswa ini sejalan dengan program PMDK yang pendaftarannya dibuka secara online pada 25 Januari-31 Maret 2010.

Sementara itu, Politeknik Ubaya memilih mempertahankan jumlah kelas, meskipun calon mahasiswa ramai. Politeknik yang membidani prodi Akuntansi, Manajemen Pemasaran, Sekretaris, dan Bahasa Inggris Bisnis, dan Perpajakan, ini menyediakan satu kelas untuk setiap prodi dengan kapasitas 30 mahasiswa.

"Beberapa prodi memang selalu memiliki peminat sendiri, tapi Perpajakan kemungkinan akan meningkat pendaftarannya, mengingat saat ini pemerintah lagi menggalakkan pajak, berarti tenaga yang dibutuhkan tentu juga meningkat," ujar Wadir Poltek Ubaya Purnomolastu, (nrey)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau