Teroris Tak Berani Targetkan Obama

Kompas.com - 13/03/2010, 11:52 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengamat terorisme, Mardigu Wowiek Prasantyo, melihat, operasi penumpasan terorisme yang dilakukan polisi dalam sepekan ini tak terkait rencana kedatangan Presiden Amerika Serikat Barack Obama.

Menurut dia, kelompok teroris tak mungkin menargetkan Obama dalam kunjungannya ke Indonesia. Teroris, jelas Mardigu, akan menyiapkan operasi terhadap yang ditargetkannya selama bertahun-tahun.

"Apakah kedatangan Obama menjadi target? Dia sebagai kepala negara, ya. Tapi dari pengalaman operasi IRA di Inggris terhadap Perdana Menteri Inggris, mereka bisa 2 tahun untuk eksekusi. Itu pun gagal. Ini dalam waktu singkat, mereka tak mungkin menjadikan Obama sebagai target," kata Mardigu dalam diskusi "Masih Ada Teroris" di Jakarta, Sabtu (13/3/2010).

Kelompok teroris tak akan melakukan operasi terhadap targetnya jika sudah diprediksi tak akan menang. "Jika perang dan tahu akan kalah, maka prinsip mereka haram untuk maju. Saya menggugurkan pandangan bahwa kedatangan Obama jadi target," ujarnya.

Namun, Mardigu mengaku tak berani mengaitkan alasan penundaan kedatangan Obama ke Indonesia dengan adanya aksi penumpasan teroris ini. Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Edward Aritonang juga menegaskan, operasi penumpasan teroris tak berkaitan dengan kedatangan Obama.

"Polisi sedang mengumpulkan informasi. Operasi penumpasan teror tak ada kaitannya dengan kedatangan Obama," kata Edward.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau