China Tolak Tekanan Asing terhadap Mata Uangnya

Kompas.com - 14/03/2010, 12:00 WIB

BEIJING, KOMPAS.com — Perdana Menteri China Wen Jiabao menolak tekanan asing terhadap Beijing untuk mengizinkan mata uang Yuan diapresiasi dan mengingatkan negara-negara lain untuk menghentikan rencana seperti itu.

AS dan Uni Eropa, mitra dagang penting China, mengatakan, pemimpin negara komunis itu berniat tetap membuat nilai tukarnya rendah untuk mendorong ekspornya, yang penting bagi negara pada saat darurat akibat krisis ekonomi global.

Presiden AS Barack Obama, pekan lalu, mengimbau Beijing untuk melaksanakan kebijakan nilai tukarnya berorientasi pasar dengan meningkatkan tekanan kepada China agar mengizinkan yuan–yang secara efektif menetapkan nilai tukarnya terhadap dollar sejak pertengahan 2008–untuk ditingkatkan.

Wen menyerang balik dengan menolak semua campur tangan pihak luar terhadap keputusan-keputusan kebijakan nilai tukar China dan mengatakan, kestabilan yuan membantu bukan hanya China, tetapi juga dunia, karena seluruh dunia juga ikut stabil.

"Pelaksanaan jenis ini adalah tidak dalam kepentingan untuk melakukan perubahan terhadap rezim nilai tukar renmimbi (yuan)," katanya pada penutupan sidang tahunan Parlemen China.

Wen mengatakan, China telah berusaha kuat sejak pecahnya krisis keuangan internasional untuk mempertahankan yuan pada tingkat yang stabil.

Nilai yuan menjadi penentu utama dalam hubungan-hubungan antara China dan AS yang memburuk karena diganggu sejumlah persoalan lain, termasuk sengketa perdagangan, masalah Tibet, Taiwan, dan kebebasan internet.

Obama, Kamis, menyerukan kepada China agar melaksanakan kebijakan nilai tukar yang berorientasi pasar, yang menurut dia, akan memberikan "sumbangan penting" kepada keseimbangan kembali ekonomi dunia setelah krisis keuangan global.

Akan tetapi, Beijing segera menolak pernyataan-pernyataan itu pada Jumat. "Kami tak setuju dengan politisasi nilai tukar renmimbi," kata Wakil Gubernur Bank Rakyat China Su Ning, menurut laporan Dow Jones Newswires.

"Kami juga tak sepakat dengan negara yang memiliki masalahnya sendiri, tetapi minta negara lain untuk memecahkan persoalan mereka," kata Su pula.

"Kami meyakini bahwa masalah nilai tukar yuan tidak akan membantu menurunkan atau menaikkan surplus dan defisit perdagangan kami," ucapnya pula.

Banyak anggota Parlemen AS yang mendesak departemen keuangannya untuk mencap nilai tukar China sebagai manipulator dalam laporan semitahunan mendatang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau