Tersangka Teroris Joko Sulistyo Menikahi Keponakan Amrozi

Kompas.com - 14/03/2010, 14:24 WIB

BOYOLALI, KOMPAS.com — Zainudin alias Joko Sulistyo (32), warga Dukuh Jebol, Desa Donohudan, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Jateng, salah satu tersangka teroris yang tertangkap di Nanggroe Aceh Darussalam, diketahui menikahi keponakan terpidana mati bom Bali, Amrozi.
     
Kepala Pedukuhan Jebol, Sumiatno, di Boyolali, Minggu (14/3/2010), mengatakan, Joko pada 2009 menikahi Auli Syahidah (20), berasal dari Lamongan, Jawa  Timur, yang juga salah seorang keponakan Amrozi. "Saya diundang saat pernikahan Joko. Istri Joko yang namanya tak dikenali oleh warga kami adalah anak kakak kandung Amrozi," katanya.
     
Ia mengatakan, setelah pernikahan itu, mereka tinggal bersama orangtua Joko, Parinem, di RT 03 RW 07 Dukuh Jebol dan telah mempunyai anak berusia empat bulan bernama Hajar Haninatus Syahadah.
     
Sekitar setengah bulan lalu, katanya, Joko tanpa pamit Parinem pergi mencari pekerjaan di Kalimantan. Sejak pernikahan itu, katanya, Joko belum pernah mendaftarkan Auli sebagai warga setempat kepada pemerintah desa setempat.
     
"Istri Joko sejak pernikahannya itu tidak pernah didaftarkan sebagai warga di sini sehingga namanya saja banyak orang tidak tahu hingga saat ini," katanya.    
     
Saat hadir pada pernikahan itu, katanya, dirinya menerima pemberitahuan dari keluarga Joko bahwa mertua pengantin laki-laki yang juga kakak Amrozi itu sering diberitakan di televisi terkait terorisme.
     
Ia menjelaskan, rumah Joko selama beberapa waktu pascabom Bali sering diintai puluhan polisi hingga beberapa hari. Ketika itu, katanya, polisi mencari orang bernama Abdulgani.
     
Abdulgani yang buron ketika itu, katanya, adalah kakak ipar Joko. Dia menikah dengan Ningsih, kakak kandung Joko. Kini dia sudah ditahan polisi. Seorang tetangga Joko, Mul Suparmi, menyebut istri Joko sebagai orang yang tertutup sehingga warga setempat hingga saat ini tidak mengetahui namanya.
     
"Istri Joko jarang keluar rumah. Warga terdekat rumahnya saja tidak kenal namanya," katanya.
     
Ketua RT 03 RW 07 Dukuh Jebol, Sutarjo, membenarkan bahwa Joko menikahi keponakan Amrozi. "Saat acara nikah itu saya juga hadir dan rombongan mertua Joko yang datang satu bus dari Jatim adalah masih keluarga Amrozi," katanya.
     
Ia juga membenarkan bahwa Joko tidak pamit kepada orangtuanya saat beberapa waktu lalu pergi ke Kalimantan. Namun, katanya, Joko hanya berpesan kepada istrinya untuk disampaikan kepada Parinem bahwa dirinya akan bekerja di Kalimantan.
     
Joko Sulistyo, salah satu di antara 31 tersangka teroris yang ditangkap oleh petugas di Desa Meunasah Mesjid, Kecamatan Leupung, NAD. Empat di antara 31 tersangka itu tewas saat baku tembak dengan petugas.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau