Mahadewi Tolak Lagu Saduran Ahmad Dhani

Kompas.com - 15/03/2010, 13:36 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Beberapa tahun belakangan, Ahmad Dhani giat mendaur ulang dan menyadur lirik hit milik pencipta lagu dari luar negeri. Namun, duo vokal Mahadewi mengaku akan menolak tawaran untuk menyanyikan lagu daur ulang berlirik saduran itu sekalipun kesempatan itu datang dari Dhani, bos rumah produksi musik dan manajemen artis yang menaungi Mahadewi.    

 

 

"Kebetulan, Mahadewi jauh banget dari yang plagiat-plagiat," ujar Tata, salah seorang personel Mahadewi, ketika ditemui seusai mengisi acara musik Dahsyat di Studio VI RCTI, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin (15/3/2010).

 

 

Puri, satu lagi personel Mahadewi, dalam kesempatan yang sama menerangkan bahwa Dhani tak pernah menawari mereka lagu seperti itu. "Kebetulan memang lagu itu enggak dikasih ke kami," kata Puri. Seandainya Dhani menawari, lanjutnya, mereka pun tidak akan menerimanya. "Kalau sampai lagu itu dikasih ke kami, kami sih bakal ngingetin, 'Kalau bisa Mas, jangan dikasih ke kitalah'," sambungnya, mencontohkan jawaban Mahadewi kelak.

 

 

Namun, untuk lagu daur ulang tanpa lirik saduran, Mahadewi tak berkeberatan. Mereka juga sudah membawakan sejumlah lagu lama ciptaan Dhani untuk Dewa 19. "Yang penting lagunya catchy aja dan pas sama suara kami, karena Mas Dhani yang paling tahu karakter suara kami," tutup Puri. (FAN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau