LEBAK, KOMPAS.com - Warga Desa Sajira Barat Kecamatan Sajira Kabupaten Lebak, mengetahui Jaja anggota terorisme yang tertembak mati di Nangroe Aceh Darussalam (NAD) Jumat (12/3) sebagai direktur perusahaan ekspedisi di Bandung, Jawa Barat.
"Kami tahu dia itu pengusaha jasa ekspedisi, bahkan warga juga pernah mendatangi kantor miliknya di Bandung," kata H Atang, salah seorang kerabat di Desa Sajira Barat Kecamatan Sajira Kabupaten Lebak, Senin (15/3/2010).
Atang mengatakan, hingga kini perusahaan Jaja alias Pura Sudarma alias Umar Yusuf sebagai pemilik CV Sajira Multi Karya dan menjabat sebagai direktur jasa pengiriman jasa ekspedisi.
Perusahaan dia memiliki tiga perwakilan yakni Surabaya, Jakarta dan Bandung. Perwakilan Kantor Surabaya beralamat di samping Stasiun Semut Surabaya dan Jakarta di Jalan Soekarno-Hatta. Sedangkan, kantor pusat beralamat di Bandung Jalan Soekarno-Hatta.
"Warga mengetahui dia itu sebagai direktur ekspedisi di Bandung," katanya.
Dia juga mengatakan, warga dan anggota keluarga juga sama sekali tidak menyangka Jaja terlibat aksi terorisme yang dicari oleh pasukaan Detasemen Khusus atau Densus 88. Jaja jika pulang kampung halaman selalu bersikap ramah, dermawan, dan membantu orang lain. Karena itu, hingga kini warga sama sekali tidak menyangka perilaku dia sebagai anggota jaringan terorisme.
"Saya sebagai kerabat tidak menngetahui persis kegiatan dia selama di luar kampung halaman," katanya.
Begitu pula Edi, teman main Jaja sewaktu kecil mengaku dirinya tidak menduga dia tewas tertembak mati anggota Densus 88 di Aceh terkait jaringan terorisme. "Saya mengetahui dia itu tewas dalam pemberitaan di media televisi," katanya.
Menurut dia, sejak kecil Jaja orangnya baik, suka menolong orang juga cukup agamis, bahkan dia termasuk anak pandai sewaktu SD sampai SMA di Rangkasbitung. Namun demikian, pihaknya hingga kini tidak mengetahui teman kecil itu terlibat terorisme di Indonesia. Apalagi, dia itu sudah lama tidak pulang kampung halaman.
"Saya terakhir ketemu Jaja sebagai direktur perusahaan ekspedisi di Bandung, Jawa Barat," katanya. Sementara itu, suasana di kediaman Jaja di Desa Sajira Barat agak berbeda. Sejak beberapa hari lalu tampak puluhan intel dari kepolisian berpakaian preman sedang berjaga-jaga sambil menunggu kedatangan jenazah Jaja yang tertembak mati oleh pasukan Detasemen Khusus atau Densus 88 di Aceh, Jumat (12/3).