Tawur Kesanga di Tengger

Kompas.com - 16/03/2010, 04:03 WIB

PASURUAN, KOMPAS.com--Ribuan umat Hindu suku Tengger di Gunung Bromo melaksanakan Tawur Kesanga atau Pecaruan Agung di lapangan Telogosari, Tosari, Pasuruan, Jawa Timur, Senin (15/3).

Tawur Kesanga atau Pecaruan Agung merupakan rangkaian prosesi umat Hindu menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1932.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Kabupaten Pasuruan, Siswoto menjelaskan, dalam rangkaian prosesi upacara menyambut Hari Raya Nyepi tahun ini, umat Hindu suku Tengger  di Gunung Bromo telah mengawali dengan upacara Melasti di sumber air Widodaren.

Dijelaskan, upacara Melasti dilakukan untuk menyucikan diri, maupun seluruh isi jagat. Upacara Melasti di Gunung Widodaren juga untuk mengambil air suci di sumber air yang ada di dalam sebuah gua yang ada di gugusan Gunung Bromo.

Air suci tersebut kemudian dibawa ke Pura untuk digunakan menyucikan pratina, arca, atau pralingga, serta berbagai simbol yang membantu mendekatkan diri pada Tuhan.

Rangkaian prosesi upacara menyambut Hari Raya Nyepi untuk menyambut Tahun Baru Saka 1932 kemudian dilanjutkan dengan upacara Tawur Kesanga atau Pecaruan Agung di lapangan Telogosari, Tosari.

Upacara Tawur Kesanga yang dipimpin Mangku Prawoto tersebut untuk menghaturkan pecaruan kepada Sang Bhuta Kala  agar tidak mengganggu umat.

Usai upacara, umat Hindu suku Tengger kemudian  mengarak ogoh-ogoh, yakni boneka raksasa yang menggambarkan roh jahat yang ada di sekitar kita.

Ogoh-ogoh atau roh jahat tersebut kemudian diletakkan pada tempatnya sehingga tidak mengganggu manusia.

Ogoh-ogoh kemudian diarak dari lapangan Telogosari ke desa komunitas Hindu di Gunung Bromo yang kemudian dibakar dalam upacara pengrupukan.

Pada hari Suci Nyepi, umat Hindu Tengger melaksanakan empat berata (catur berata), yakni pantangan yang wajib dipatuhi.

Catur Berata itu meliputi, amati geni (larangan menyalakan api), amati karya (larangan melakukan aktivitas kerja), amati lelanguan (larangan menghibur diri dan tidak menikmati kesenangan), amati lelungan (larangan bepergian).

Dalam kesenyapan hari suci Nyepi, umat Hindu bermawas diri, menyatukan pikiran serta menyatukan cipta, rasa, dan karsa, menuju penemuan hakikat keberadaan diri dan inti sari kehidupan semesta.

Usai melaksanakan Nyepi, umat Hindu kemudian menyambut hari raya Ngembak Geni, yakni seluruh anggota keluarga saling keluar rumah dan saling bermaaf-maafan dengan sesama anggota keluarga serta tetangga dan kerabat dengan suasana batin yang telah bersih dan dipenuhi kebijaksanaan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau