Pengamanan RS Polri Longgar, Jenazah Teroris Belum Diambil

Kompas.com - 16/03/2010, 10:09 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Tiga hari sejak kedatangan dua jenazah tersangka teroris yang tewas dalam penyergapan polisi di Aceh, Selasa (16/3/2010) ini, situasi penjagaan di RS Polri Sukanto, Kramat Jati, Jakarta Timur, mulai mengendur dari biasanya.

Situasi, terutama di areal ruang Instalasi Forensik RS Polri, tampak lengang dari pengamanan petugas. Hal ini berbeda dengan beberapa hari sebelumnya saat banyak aparat kepolisian berjaga di sekitar lokasi. Hari ini hanya ada sekitar tiga polisi yang mengamankan areal tersebut.

Juga tidak tampak tim Densus 88 Antiteror yang biasanya silih berganti datang ke RS Polri. Garis polisi yang sudah terpasang sejak beberapa pekan lalu bahkan juga sudah mulai terlepas di beberapa sudut.

Berdasarkan pantauan hingga saat ini, tidak ada satu pun anggota keluarga dari jenazah korban yang datang ke RS Polri untuk melihat tiga jenazah yang terbujur kaku di ruang Instalasi Forensik.

Seperti yang telah diberitakan, jumlah jenazah yang berada ruang Instalasi Forensik RS Sukanto Polri berjumlah tiga jenazah, antara lain, Hasan Nour yang merupakan salah satu pengawal Dulmatin yang tewas ditembak saat penggerebekan di Gang Asem, Pamulang, Selasa (9/3/2010) lalu. Hingga saat ini belum ada satu pun pihak keluarga yang mengakui jenazah Hasan sebagai anggota keluarganya.

Sedangkan dua jenazah yang lain adalah Enceng Kurnia dan Pura Sudarma yang tewas dalam kontak senjata di depan Mapolsek Leupung, Aceh Besar. Meski pada Minggu kemarin pihak keluarga Enceng dan Pura Sudarma sudah sempat mendatangi RS Polri, hingga kini kedua jenazah belum juga diambil dan dimakamkan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau