Lebih Dari 100.000 RSH Belum Tersambung Listrik

Kompas.com - 16/03/2010, 17:57 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com - Lebih dari 100.000 rumah sederhana sehat (RSH) di Indonesia saat ini belum tersambung jaringan listrik. Jumlah itu merupakan akumulasi RSH sejak tahun 2002 dengan dampak merugikan penge mbang, perbankan, hingga konsumen.

Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Real Estat Indonesia Teguh Satria di Bandung, Selasa (16/3/2010), mengatakan, sebagian RSH itu tidak laku. "Banyak yang belum diserahterimakan. Sebagian RSH tidak dihuni. Kalau laku pun, penghuninya tidak merasa nyaman," ujarnya.

Dampaknya, tidak sedikit pembeli RSH tidak mau membayar angsuran karena enggan menempati rumah tersebut. Keadaan itu menyebabkan perbankan tak bisa menyalurkan uang kepada pengembang. Teguh mengatakan, PLN pun rugi karena tidak bisa menjual listrik.

Masalah itu terjadi di berbagai provinsi seperti Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Menurut Teguh, pihaknya sudah bertemu dengan Direktur Utama PLN Dahlan Iskan pada 24 Januari 2010. Dalam pertemuan itu, pihak PLN berjanji melengkapi semua RSH dengan listrik.

"Namun, batas waktu hingga semua RSH tersambung dengan jaringan listrik tak disebutkan. Kami berharap, rencana itu bisa direalisasikan pada tahun 2010," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau