Profil pelatih

Kejutan Mourinho di Stamford Bridge

Kompas.com - 18/03/2010, 03:59 WIB

Jose Mourinho membawa kejutan saat kembali ke Stamford Bridge yang dia tinggalkan sejak September 2007. Pelatih kontroversial yang kini menangani Inter Milan itu mengempaskan Chelsea dari jalur Liga Champions setelah ditekuk 0-1. Kejutan dari ”The Special One” itu mungkin tidak akan pernah dimaafkan oleh pendukung ”The Blues”.

Namun, kejutan sebenarnya bukan kemenangan itu semata. Mourinho menerapkan strategi jitu dan formasi baru untuk meredam gempuran Didier Drogba, Nicolas Anelka, dan Florent Malouda.

Di pertemuan kedua babak 16 besar, Mourinho memasang tiga penyerang sekaligus dengan formasi 4-2-1-3. Goran Pandev dan Samuel Eto’o dipasang di sayap untuk mendukung penyerang tengah Diego Milito. Di belakang mereka, Wesley Sneijder bertugas mengatur serangan dan menyuplai bola-bola matang ke trisula ”Nerazzurri”. Formasi ini bukan ”gaya” Mourinho yang selama ini hanya memasang dua penyerang.

Pola ini membuat para pemain Chelsea sedikit ragu dan berhati-hati di awal babak pertama. Mereka tidak menduga Inter akan bermain dengan formasi yang bukan ”gaya” Mourinho. Pemain Chelsea bisa dikatakan mengenal betul cara berpikir dan strategi pelatih asal Portugal itu. Pada pertandingan Rabu dini hari WIB tersebut, hanya Anelka dan Zirkhov yang bergabung dengan Chelsea sepeninggal Mourinho.

Keraguan para pemain The Blues itu membuka peluang bagi para pemain Inter untuk mengembangkan permainan. Efek kejut ini sesuai dengan alur skenario yang dirancang Mourinho.

”Saya ingin menebar keraguan di Chelsea dan saya melihat beberapa keraguan,” ujar Mourinho seusai pertandingan.

Taktik ini mampu mengimbangi lapangan tengah Chelsea yang dimotori Frank Lampard dan Malouda. Malouda di sayap kiri Chelsea rajin menyuplai bola-bola matang ke Drogba dan Anelka. Namun, pertahanan Inter yang dijaga Samuel, Lucio, dan Motta berkali-kali menyelamatkan gawang Julio Caesar.

Inter menunjukkan dominasi sesungguhnya setelah 10 menit babak kedua berjalan. Serangan dibangun perlahan-lahan melalui umpan-umpan pendek. Pada menit ke-78, secara mengejutkan, Sneijder mengumpan bola ke Eto’o yang berada jauh di depan. Eto’o lolos dari tempelan Ivanovic dan terciptalah gol.

Mourinho tidak mudah mencapai kesuksesan ini. Kepada ESPNStar, ia mengungkapkan, kehadirannya di Stamford Bridge menonton Chelsea melawan Fulham pada Desember 2009 untuk memperoleh gambaran terkini Chelsea, menyerap atmosfer lapangan, dan melepaskan emosi. Mourinho pun memutar berulang kali tujuh keping DVD rekaman pertandingan leg pertama di San Siro untuk mematangkan strategi mengalahkan Chelsea.

Phil McNulty, kepala wartawan sepak bola BBC Sport, menilai Mourinho memiliki gaya, kegigihan, dan yang paling penting, kesuksesan. (REUTERS/ANG)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau