Jose Mourinho membawa kejutan saat kembali ke Stamford Bridge yang dia tinggalkan sejak September 2007. Pelatih kontroversial yang kini menangani Inter Milan itu mengempaskan Chelsea dari jalur Liga Champions setelah ditekuk 0-1. Kejutan dari ”The Special One” itu mungkin tidak akan pernah dimaafkan oleh pendukung ”The Blues”.
Namun, kejutan sebenarnya bukan kemenangan itu semata. Mourinho menerapkan strategi jitu dan formasi baru untuk meredam gempuran Didier Drogba, Nicolas Anelka, dan Florent Malouda.
Di pertemuan kedua babak 16 besar, Mourinho memasang tiga penyerang sekaligus dengan formasi 4-2-1-3. Goran Pandev dan Samuel Eto’o dipasang di sayap untuk mendukung penyerang tengah Diego Milito. Di belakang mereka, Wesley Sneijder bertugas mengatur serangan dan menyuplai bola-bola matang ke trisula ”Nerazzurri”. Formasi ini bukan ”gaya” Mourinho yang selama ini hanya memasang dua penyerang.
Pola ini membuat para pemain Chelsea sedikit ragu dan berhati-hati di awal babak pertama. Mereka tidak menduga Inter akan bermain dengan formasi yang bukan ”gaya” Mourinho. Pemain Chelsea bisa dikatakan mengenal betul cara berpikir dan strategi pelatih asal Portugal itu. Pada pertandingan Rabu dini hari WIB tersebut, hanya Anelka dan Zirkhov yang bergabung dengan Chelsea sepeninggal Mourinho.
Keraguan para pemain The Blues itu membuka peluang bagi para pemain Inter untuk mengembangkan permainan. Efek kejut ini sesuai dengan alur skenario yang dirancang Mourinho.
”Saya ingin menebar keraguan di Chelsea dan saya melihat beberapa keraguan,” ujar Mourinho seusai pertandingan.
Taktik ini mampu mengimbangi lapangan tengah Chelsea yang dimotori Frank Lampard dan Malouda. Malouda di sayap kiri Chelsea rajin menyuplai bola-bola matang ke Drogba dan Anelka. Namun, pertahanan Inter yang dijaga Samuel, Lucio, dan Motta berkali-kali menyelamatkan gawang Julio Caesar.
Inter menunjukkan dominasi sesungguhnya setelah 10 menit babak kedua berjalan. Serangan dibangun perlahan-lahan melalui umpan-umpan pendek. Pada menit ke-78, secara mengejutkan, Sneijder mengumpan bola ke Eto’o yang berada jauh di depan. Eto’o lolos dari tempelan Ivanovic dan terciptalah gol.
Mourinho tidak mudah mencapai kesuksesan ini. Kepada ESPNStar, ia mengungkapkan, kehadirannya di Stamford Bridge menonton Chelsea melawan Fulham pada Desember 2009 untuk memperoleh gambaran terkini Chelsea, menyerap atmosfer lapangan, dan melepaskan emosi. Mourinho pun memutar berulang kali tujuh keping DVD rekaman pertandingan
Phil McNulty, kepala wartawan sepak bola BBC Sport, menilai Mourinho memiliki gaya, kegigihan, dan yang paling penting, kesuksesan.