Bilateral

Hadapi Saat Krusial, Obama Tunda Kunjungan ke Indonesia

Kompas.com - 20/03/2010, 03:47 WIB

Washington, Jumat - Situasi krusial di dalam negeri yang dihadapi Presiden Amerika Serikat Barack Obama menyangkut pengesahan rancangan undang-undang reformasi layanan kesehatan pada hari Minggu mendatang menyebabkan Obama harus menunda kunjungannya ke Indonesia dan Australia hingga bulan Juni.

”Presiden Obama menyatakan penyesalan dan kekecewaan karena harus menunda lagi kunjungannya ke Indonesia dan Australia,” tutur Juru Bicara Gedung Putih Robert Gibbs, Kamis (18/3) malam waktu setempat. Sedianya, Obama berkunjung ke Indonesia pada 23-25 Maret.

Obama, menurut Gibbs, telah mengatakan kepada kedua kepala negara bahwa reformasi layanan kesehatan adalah prioritas penting.

”Presiden (Obama) yakin bahwa saat ini tempat baginya adalah berada di Washington untuk mengurus hal itu,” ungkap Jubir Gedung Putih itu.

Saat krusial bagi masa depan pemerintahan Obama dan Partai Demokrat pendukungnya, yakni pemungutan suara di DPR AS (House of Representatives) soal RUU ini, sebelum bisa disahkan, membuat ia harus menunggui prosesnya agar dapat membantu Partai Demokrat di Capitol Hill untuk menghimpun suara bagi lolosnya RUU tersebut sampai menit-menit terakhir.

Meski demikian, kata Jubir Gedung Putih, Obama meyakinkan rakyat Indonesia bahwa dia masih menantikan kunjungan ke bekas rumah masa kecilnya dulu, setelah persoalan reformasi layanan kesehatan selesai.

Obama mengatakan, lebih masuk akal untuk menunggu hingga Juni agar dia dan keluarganya tidak buru-buru saat mengunjungi Indonesia.

Sesuai usulan

Meski Indonesia sudah keburu bersiap-siap menerima kunjungan Obama yang tertunda untuk kedua kalinya ini, pihak Indonesia memaklumi.

”Sebelum ada penundaan dari tanggal 20 Maret ke tanggal 23 Maret, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah mengirimkan pesan kepada Presiden Obama bahwa kunjungan ini sebaiknya dilakukan pada saat masalah politik dalam negeri Presiden Obama sudah selesai,” tutur Juru Bicara Kepresidenan RI Dino Patti Djalal dalam keterangan persnya di Kantor Presiden di Jakarta, Jumat (19/3).

Presiden Yudhoyono juga telah mengusulkan agar kunjungan dilakukan pada bulan Juni saat ketegangan politik AS sudah mereda serta bertepatan dengan liburan musim panas.

”Dengan begitu, Presiden Obama juga bisa membawa First Lady (Michelle Obama) dan kedua putrinya,” ujar Dino.

Namun, ketika Gedung Putih menyatakan bahwa kunjungan Presiden Obama siap dilakukan pada 23-25 Maret, Pemerintah Indonesia pun menyambut baik. Persiapan penyelenggaraan kunjungan juga sudah dilakukan.

”Tetapi, sekarang kita kembali ke usulan awal, usulan dari Presiden Yudhoyono,” kata Dino.

”Kami mendapat pesan dari Gedung Putih karena reformasi sistem kesehatan masih tidak pasti, apalagi voting-nya (di DPR AS) tidak bisa dilakukan sebelum hari Minggu (21/3), maka Presiden Obama minta pengertian Presiden Yudhoyono dan tentu juga Perdana Menteri (Australia) Kevin Rudd untuk menunda kunjungan ini hingga bulan Juni,” papar Dino.

Tak ganggu persiapan

Meski diungkapkan secara tiba-tiba (kabar penundaan ini baru diterima Pemerintah Indonesia melalui komunikasi diplomatik antara Jakarta dan Washington DC pada Kamis sekitar pukul 22.30 WIB), menurut Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, Indonesia sangat memahaminya.

”Penundaan tidak mengganggu semua persiapan yang sudah dilakukan. Semua persiapan substansi sudah matang, antara lain Comprehensive Partnership Agreement, perjanjian di bidang investasi, perjanjian tentang kerja sama teknologi, dan lain-lain, dari sisi substansi sudah siap semua,” papar Marty Natalegawa, Jumat siang.

Sejumlah perlengkapan logistik Presiden Obama berupa kendaraan dan peralatan komunikasi pun sudah tiba di Bali—tempat lain yang akan dikunjunginya selain Jakarta—pada Kamis siang lalu, diangkut menggunakan pesawat kargo milik Angkatan Udara AS jenis Boeing C17 Globemaster, tetapi hal itu tidak menjadi masalah.

”Pasti logistik itu akan diambil dan diangkut kembali dengan pesawat yang sama. Hanya soal waktunya pihak AS belum memastikan,” ungkap Komandan Pangkalan Udara Ngurah Rai Letnan Kolonel (Penerbang) Aldrin P Mongan, yang ditemui di Denpasar, Bali, Kamis.

”Justru sistem dan operasi pengamanan kita akan lebih optimal karena ada waktu lebih lama untuk mempersiapkan diri,” ujar Kepala Kepolisian Daerah Bali Inspektur Jenderal Sutisna di sela-sela simulasi penanggulangan aksi teror yang digelar bekerja sama dengan Kodam IX Udayana di Kuta, Bali. Sedikitnya 400 personel kedua lembaga dilibatkan dalam simulasi yang digelar hingga hari Sabtu esok. (ap/afp/reuters/ben/oki/ilo/ire/day/fro)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau