Presiden SBY Akan Membuka Langsung Muktamar NU

Kompas.com - 21/03/2010, 19:06 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Selasa (23/3/2010) pagi mendatang, akan langsung terbang dari Jakarta menuju Kota Makassar, Sulawesi Selatan, untuk membuka secara resmi Muktamar ke-32 Nahdlatul Ulama (NU). Penggunaan sarana teleconference dibatalkan karena Presiden SBY memiliki waktu khusus setelah penundaan kunjungan Presiden Amerika Serikat Barack Obama.

Kepastian pembukaan Muktamar NU oleh Presiden SBY disampaikan oleh Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha kepada Kompas, Minggu (21/3/2010) sore tadi. Dijadwalkan, seusai membuka muktamar, Presiden baru akan kembali ke Jakarta, Selasa sore pukul 15.00 waktu Indonesia Tengah (WITA). Rangkaian acara seremonial pembukaan Muktamar NU dijadwalkan akan berlangsung sejak pukul 10.00 WITA hingga pukul 14.00 WITA.

"Presiden memberikan waktu khusus untuk langsung datang ke Makassar untuk membuka Muktamar ke-32 NU. Berangkat pagi hari pukul 08.00 WIB, pulang sore harinya pukul 15.00 WITA. Sementara, acara dalam kunjungan kerja Presiden itu hanya menghadiri pembukaan Muktamar NU," tandas Julian.

Menurut Julian, memang, semula Presiden SBY hanya akan membuka Muktamar NU dengan teleconference dari Istana Negara. Waktu itu, dengan pertimbangan, agenda Presiden padat karena adanya kunjungan kenegaraan Presiden AS Barack Obama yang semula dijadwalkan pada Selasa besok. "Namun, karena ditunda Juni kunjungannya, maka Presiden mempunyai waktu untuk datang langsung untuk membuka Muktamar NU," jelas Julian.

Dalam pembukaan Muktamar NU, lanjut Julian, Presiden Yudhoyono akan berpidato terkait dengan muktamar kaum Nahdliyin.

Tentang pertemuan Presiden Yudhoyono dengan salah satu kandidat Ketua Umum NU KH Said Agil Sirajd di kediaman pribadi Presiden di Puri Indah Cikeas, Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat, Julian mengaku tidak hadir sehingga ia tidak bisa berkomentar banyak.

"Memang, ada sejumlah agenda internal Presiden Sabtu (20/3/2010) lalu, akan tetapi saya tidak hadir dalam pertemuan Presiden dengan Pak Said Agil," ujar Julian.

Ia juga tidak bisa berkomentar lebih jauh saat ditanya apakah pertemuan tersebut sebagai bentuk dukungan Presiden terhadap Said Agil sebagai calon ketua umum. "Maaf, saya tidak memberikan komentar lebih jauh," demikian Julian.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau