Tambak Rusak Ekosistem Mangrove di Lampung

Kompas.com - 21/03/2010, 20:59 WIB

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com -  Mayoritas ekosistem hutan bakau di Provinsi Lampung kini dalam kondisi kritis, yaitu 80 persen rusak. Sebagian besar hutan mangrove, bahkan yang termasuk kategori dilindungi, kini beralih fungsi menjadi tambak.

Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung, dari 93.919 hektar luas ekosistem hutan bakau yang pernah tercatat, kini menyusut menjadi hanya sekitar 45.000 ha. Sebagian yang tersisa, kondisinya juga rusak parah.

"Hutan mangrove di sepanjang pantai timur mulai dari Ketapang (Lampung Timur), Brajasakti (Lampung Timur) hingga ke Tulang Bawang kondisinya rusak parah," tutur Kepala Divisi Publikasi dan Kampanye Mitra Bentala, Suprianto, Minggu (21/3/2010).

Mitra Bentala adalah LSM mitra Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) yang bergerak di bidang lingkungan hidup, khususnya persoalan di wilayah pesisir dan laut-laut kecil.

Menurut dia, pertumbuhan tambak, baik semi-intensif, intensif dan tradisional adalah biang kerok kerusakan hutan mangrove di Lampung. Ia mencontohkan, di wilayah Kabupaten Pesawaran, luas areal tambak meningkat hingga 200 persen di dalam waktu hanya dua tahun.

"Padahal, areal mangrove di Pesawaran ini termasuk yang masih baik. Kalau terus dibiarkan, kerusakannya bisa parah seperti terjadi di pantai timur," ungkap Ketua Dewan Daerah Walhi Lampung ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau