BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com - Mayoritas ekosistem hutan bakau di Provinsi Lampung kini dalam kondisi kritis, yaitu 80 persen rusak. Sebagian besar hutan mangrove, bahkan yang termasuk kategori dilindungi, kini beralih fungsi menjadi tambak.
Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung, dari 93.919 hektar luas ekosistem hutan bakau yang pernah tercatat, kini menyusut menjadi hanya sekitar 45.000 ha. Sebagian yang tersisa, kondisinya juga rusak parah.
"Hutan mangrove di sepanjang pantai timur mulai dari Ketapang (Lampung Timur), Brajasakti (Lampung Timur) hingga ke Tulang Bawang kondisinya rusak parah," tutur Kepala Divisi Publikasi dan Kampanye Mitra Bentala, Suprianto, Minggu (21/3/2010).
Mitra Bentala adalah LSM mitra Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) yang bergerak di bidang lingkungan hidup, khususnya persoalan di wilayah pesisir dan laut-laut kecil.
Menurut dia, pertumbuhan tambak, baik semi-intensif, intensif dan tradisional adalah biang kerok kerusakan hutan mangrove di Lampung. Ia mencontohkan, di wilayah Kabupaten Pesawaran, luas areal tambak meningkat hingga 200 persen di dalam waktu hanya dua tahun.
"Padahal, areal mangrove di Pesawaran ini termasuk yang masih baik. Kalau terus dibiarkan, kerusakannya bisa parah seperti terjadi di pantai timur," ungkap Ketua Dewan Daerah Walhi Lampung ini.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang