Perspektif Positif dari Penundaan Kunjungan Obama ke Indonesia

Kompas.com - 22/03/2010, 09:06 WIB

KOMPAS.com - Penundaan kunjungan Presiden Amerika Serikat Barack Obama ke Indonesia tidak perlu dipandang dalam perspektif negatif. Justru penundaan itu bisa dimaknai sebagai kesempatan untuk mematangkan konsep kerja sama yang lebih komprehensif dan menguntungkan Indonesia.

Pokok pemikiran soal penundaan kunjungan itu terkuak dalam diskusi bertajuk ”Pembatalan Kunjungan Obama dan Kerja Sama RI-AS”, Sabtu (20/3/2010) di Jakarta. Hadir sebagai pembicara dalam diskusi itu pengamat hubungan internasional dari Universitas Padjadjaran Teuku Rezasyah, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amidhan, pengamat militer Hermawan Sulistyo, dan pengamat ekonomi Purbaya Yudhi Sadewa.

”Dalam tiga bulan mendatang kita memiliki kesempatan mendesain apa kepentingan kita atas AS. Selama ini belum jelas apa sebenarnya yang kita maui, butuhkan, serta apa yang diharapkan dari AS. Belum jelas juga apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan bersama AS. Pemerintah, DPR, dan perguruan tinggi harus bersatu membuat konsep itu,” kata Rezasyah.

Dalam bidang perekonomian misalnya, Purbaya mengungkapkan, Indonesia bisa meminta AS memindahkan basis produksinya ke Indonesia untuk melayani pasar di Asia. Perlu diketahui, investasi AS ke Indonesia lebih sedikit dibanding yang ditujukan ke negara lain di Asia Tengara.

”Harus diakui untuk sekarang ini AS lebih penting bagi Indonesia,” katanya. Dalam bidang militer, menurut Hermawan, Indonesia bisa meminta AS mencabut embargonya. Hal ini penting agar sistem persenjataan dan alat pertahanan Indonesia yang tidak bisa berfungsi optimal karena tidak ada suku cadang atau amunisinya bisa kembali normal.

”Jika AS menjual ke Malaysia pesawat F-16 yang dipersenjatai dengan peluru kendali, mengapa Indonesia tidak diberikan hak yang sama?” gugat Hermawan.

Menurut Amidhan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus bisa meyakinkan Obama bahwa Islam di Indonesia merupakan Islam yang lebih moderat dibanding di negara lain. Presiden juga perlu mengklarifikasi pandangan AS tentang pondok pesantren merupakan sumber atau pemasok teroris itu keliru.

”Kedatangan Obama harus bisa menghapus stigma AS yang keliru tentang Islam dan pesantren. Pesantren jangan selalu dituding sebagai sarang teroris,” kata Amidhan.

Menurut Rezasyah, ada sejumlah hal prioritas yang bisa dijadikan sebagai ajang kerja sama antara Indonesia dan AS. Beberapa di antaranya di bidang pendidikan dan perdagangan karbon.

Cegah gontok-gontokan internal

Konsep yang matang tersebut, menurut Rezasyah, penting, apalagi kecil kemungkinan Obama membatalkan kunjungannya untuk ketiga kali. ”Dalam etika diplomatik, kalau kunjungan sudah ditunda dua kali, dia akan merasa malu untuk menunda lagi. Ini akan berkembang menjadi suatu pola dan kredibilitas AS akan jatuh di mata dunia. Bisa-bisa AS akan mengemis ke negara lain agar pemimpin negaranya diundang,” katanya.

Untuk mendukung perumusan konsep kerja sama yang matang, menurut Rezasyah, diperlukan dukungan stabilitas politik dalam tiga bulan ke depan. Perseteruan struktural, pemerintah dengan DPR, parpol dengan parpol, perlu dikurangi dulu. ”Bagaimana kita bisa membuat konsep yang matang dan komprehensif, serta memberikan saran kepada Obama kalau keadaan dalam negeri kita di mata dia kurang stabil,” katanya.

Salah satu yang bisa dikerjasamakan, menurut Rezasyah, antara lain pemberdayaan pesantren-pesantren di Indonesia yang dicurigai AS sebagai sarang teroris. AS bisa membantu meningkatkan kualitas pendidikan pesantren dengan standar sekolah atau perguruan tinggi di sana, tanpa harus intervensi. Mereka bisa memberikan kurikulum tambahan berupa teknologi informasi, bahasa Inggris dengan standar TOEFL yang lebih tinggi, serta peningkatan kualitas pengasuh pondok pesantren.

Di luar kerja sama dua negara itu, menurut Rezasyah, Indonesia juga bisa meyakinkan Obama bahwa Indonesia berpotensi memainkan peran strategis dalam menciptakan perdamaian di AS. ”Indonesia dihormati AS dan Israel. Ini yang kurang kita sadari,” katanya. (WHY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau