BANDUNG, KOMPAS -
Direktur Utama PT Pos Indonesia I Ketut Mardjana, Senin (22/3), mengatakan itu seusai penandatanganan perpanjangan kerja sama antara PT Pos Indonesia dan PT Asabri (Persero) di Bandung, Jawa Barat.
”Jasa pengelolaan keuangan akan menjadi prioritas pengembangan bisnis PT Pos ke depan. Ini mengingat PT Pos memiliki modal besar, mulai dari infrastruktur hingga sumber daya manusia. Bahkan, kami prediksi, semakin lama share dari jasa pengiriman surat akan turun dan jasa pengelolaan keuangan akan naik,” kata Ketut.
Pada 2009, dari pendapatan PT Pos Rp 2,4 triliun, andil jasa pengelolaan keuangan baru sekitar 31 persen. Sumbangan terbesar masih didominasi jasa pengiriman pos surat, yakni 57 persen atau mencapai Rp 1,36 triliun. ”Seiring penguatan bisnis jasa keuangan, laba perusahaan juga diharapkan meningkat dari Rp 71 miliar pada 2009 menjadi Rp 170 miliar pada 2010,” kata Ketut.
Jasa pengelolaan keuangan yang kini sudah digeluti PT Pos adalah distribusi dana pensiun, pembayaran rekening listrik dan telepon, pembelian tiket transportasi, penyaluran bantuan pemerintah, serta pengiriman remittance tenaga kerja Indonesia di luar negeri.
Untuk mendukung kinerja jasa pengelolaan keuangan, menurut Ketut, perlu ada pembenahan sistem teknologi informasi yang menyeluruh, mulai dari kantor cabang hingga pusat. Pada 2010, PT Pos menyiapkan dana sekitar Rp 500 miliar sebagai belanja modal perseroan untuk pengembangan sistem teknologi informasi, perbaikan sarana dan prasarana, serta penguatan SDM.
Tahun lalu, PT Pos hanya mengalokasikan anggaran Rp 100 miliar untuk investasi teknologi. ”Karena layanan kami semakin meningkat, kami juga harus melipatgandakan investasi,” kata Ketut.