JAKARTA, KOMPAS.com — Penguasa Bursa Efek Indonesia kini sudah berganti. Nilai kapitalisasi pasar PT Astra International Tbk (ASII) telah melampaui PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) yang selama bertahun-tahun merajai lantai bursa.
Kemarin (22/3/2010), harga saham berkode ASII ini meningkat 0,25 persen menjadi Rp 40.200 per saham. Otomatis, ini mendongkrak nilai kapitalisasi pasarnya menjadi Rp 162,74 triliun atau setara dengan 7,36 persen dari total kapitalisasi BEI yang mencapai Rp 2.211,1 triliun.
Sebenarnya, harga saham ASII mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarahnya pada Rabu (17/3/2010) pekan lalu, sebesar Rp 40.850 per saham. Namun, posisi teratas baru direngkuhnya kemarin setelah harga saham TLKM turun 2,42 persen menjadi Rp 8.050 per saham.
Alhasil, nilai kapitalisasi pasar raksasa telekomunikasi ini tergerus menjadi Rp 162,29 triliun. Ini setara dengan 7,34 persen kapitalisasi pasar BEI. Sepanjang sejarah bursa saham di Indonesia, posisi TLKM tak pernah tergoyahkan, kecuali oleh PT Bumi Resources Tbk (BUMI) pada awal 2008.
Kepak sayap ASII menguasai bursa saham tak lepas dari sepak terjang bisnis Grup Astra yang terus tumbuh. Selain mendominasi pasar otomotif nasional, lewat anak usahanya, raksasa bisnis ini juga gencar menyasar sektor perkebunan, batu bara, dan perbankan.
Analis Valbury Asia Securities, Budi Rustanto, mengatakan, investor masih akan memburu saham ASII lantaran ekonomi Indonesia makin berkembang. "Tapi, Grup Astra tak akan meninggalkan bisnis intinya di sektor otomotif," ujarnya, kemarin.
Akan tetapi, menurut Budi, harga saham ASII sudah tinggi dan hanya investor kakap yang bisa memilikinya. Artinya, manajemen ASII perlu mempertimbangkan pemecahan nilai saham alias stock split. "Rasio ideal stock split adalah 1:2 hingga 1:3," ujarnya. Dengan demikian, saham ASII bisa dibeli oleh seluruh kalangan.
Kepala Riset Bhakti Securities Edwin Sebayang tak sepakat dengan penilaian itu. "Barang bagus tentunya harus dimiliki investor yang berkualitas juga," katanya. Sedangkan Yulian Warman, Head of Public Relations ASII, menyatakan, hingga kini ASII belum memiliki rencana stock split.
Baik Budi maupun Edwin masih merekomendasikan beli saham ASII. Masing-masing mematok target harga Rp 43.700 dan Rp 47.000 per saham hingga akhir tahun ini. (Sandy Baskoro, Abdul Wahid Fauzi /Kontan)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang