Harga Properti Mewah di Dunia Turun, Kecuali di China, Hongkong, Singapura, Jakarta

Kompas.com - 23/03/2010, 22:50 WIB

KOMPAS.com - Harga rumah-rumah mewah menjadi lebih terjangkau saat terjadi krisis keuangan tahun lalu, mulai dari Monaco sampai Barbados. Nilai real estate premier di 56 lokasi turun rata-rata 5,5 persen.

Demikian diungkapkan Knight Frank LLP, broker properti yang berkantor pusat di London, Inggris, dalam laporan yang dipublikasikan hari Selasa (23/3/10). Monaco adalah pasar properti termahal dalam dua tahun berturut-turut, disusul London dan Paris.

Orang-orang kaya menunda pembelian properti pada tahun 2009 karena khawatir dengan kondisi perekonomian dunia, demikian Knight Frank. Harga properti di pedesaan, kawasan pantai, dan resort ski, yang acapkali dibeli sebagai rumah kedua, jatuh sekurang-kurangnya 12 persen. Penurunan harga terbanyak dialami properti di Dubai (Uni Emirat Arab), Algavre di sebelah barat Portugal, Palma di Kepulauan Mallorca (Spanyol), dan Dublin (Irlandia) yang turun sedikitnya 22 persen.

"Properti di kota-kota cenderung punya performa lebih baik karena mereka memang dibutuhkan, sementara rumah-rumah pribadi di pedesaan dan resort dibeli karena merupakan pilihan," kata Liam Bailey, Kepala Riset Residensial Knight Frank.
 
Jakarta

Apartemen dan rumah-rumah mewah di perkotaan mengalami apresiasi harga rata-rata 0,4 persen. Properti yang mengalami lompatan harga adalah properti di China, Hongkong, Singapura, dan Jakarta, demikian ungkap broker Knight Frank.

"Didorong oleh pemulihan ekonomi yang sangat cepat di China dari resesi global, harga properti utama di Shanghai, Beijing, dan Hongkong naik secara fenomela tahun lalu," kata Bailey.
 
Shanghai mengalami kenaikan terbesar, di mana harga properti rata-rata antara 500 dollar AS dan 700 dollar AS per square foot, atau 52 persen lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya, menurut sebuah survei. Ini merupakan lokasi rumah mewah ke-13 termahal di antara sejumlah kota di dunia. Sebanyak 8.438 properti di Shanghai terjual tahun lalu dengan nilai total 735.000 dollar AS, sehingga membuat China pasar residensial premier terbesar di dunia saat ini.

Harga rumah-rumah mewah di Beijing naik 47 persen, sedangkan di Hongkong meningkat 41 persen menjadi rata-rata 2.000 dollar AS sampai 2.500 dollar AS per square foot, sehingga membuatnya menjadi kota keempat termahal di dunia.
 
China sudah mengambil langkah untuk mengendalikan kenaikan harga yang sangat cepat dalam pasar real estate. Pemerintah China pada bulan Januari lalu memberlakukan kembali pajak penjualan untuk rumah-rumah yang terjual dalam lima tahun terakhir. Bank of China juga meningkatkan proporsi deposito sebagai cadangan, untuk mengurangi pinjaman.
 
Harga properti di China naik 10,7 persen pada bulan Februari, angka ini merupakan tertinggi dalam dua tahun terakhir ini. Kondisi ini membuat Bank Dunia mendesak bank sentral China menaikkan suku bunga untuk mencegah terjadinya penggelembungan. 
 
Langkah pemerintah mungkin dapat mengendalikan permintaan. "Pertumbuhan ekonomi yang kuat dan persediaan yang terbatas harus menjaga kestabilan harga tahun ini," kata Xavier Wong, Kepala Riset Knight Frank untuk Kawasan China dan Hongkong.

Di Monaco, tempat tinggal juara Formula One Jenson Button dan miliarder Philip Green, harga properti jatuh sekitar 15 persen tahun lalu. Harga rata-rata apartemen atau rumah mewah dengan pajak yang rendah di Riviera berkisar antara 4.300 dollar AS sampai 5.900 dollar AS per square foot pada akhir tahun 2009, demikian diungkap Knight Frank.

Pasar rumah mewah di London yang pernah menjadi terbaik di Eropa, ikut terkena dampak akibat lemahnya mata uang poundsterling. Di Amerika dan Kanada, harga rumah mewah turun sampai rata-rata 7,7 persen, terutama di San Francisco, sedangkan rumah mewah di Karibia merosot sampai 13 persen.  
 
Laporan Knight Frank ini dilengkapi pula dengan survei atas bank swasta Citigroup Inc, yang menunjukkan bahwa 91 persen pelanggan berharap kekayaan bersih mereka tidak berubah atau sedikit meningkat tahun ini. Separuh dari responden dalam survei Citibank itu menyebutkan mereka berharap hasil yang lebih baik dari perumahan real estate tahun ini dibandingkan jenis investasi lainnya. Properti memberi kontribusi 30 persen aset-aset yang dimiliki nasabah bank, lebih banyak dibandingkan saham dan investasi lainnya.  (Sumber: Bloomberg)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau