Kairo, Kompas -
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu hari Senin (22/3) di depan forum AIPAC kembali menegaskan, kota Jerusalem bersatu adalah ibu kota abadi negara Israel, dan pembangunan perumahan di kota itu bukan kategori permukiman ilegal.
”Bangsa Yahudi membangun kota Jerusalem sejak tiga ribu tahun lalu dan akan terus membangun sekarang,” kata PM Israel itu. Netanyahu juga menuduh Otoritas Palestina tidak berani memberikan konsesi demi perdamaian.
Netanyahu menegaskan hal tersebut hanya beberapa jam setelah Menlu AS Hillary Clinton dalam forum yang sama memperingati dampak isu permukiman atas hubungan AS-Israel.
Hillary menyatakan, proyek pembangunan permukiman baru di Jerusalem Timur dan Tepi Barat akan mengganggu rasa saling percaya AS-Israel dan membahayakan rencana perundingan tidak langsung Israel-Palestina, serta melemahkan posisi AS sebagai pemain sentral dalam proses perdamaian.
Hillary juga berharap Israel melakukan langkah signifikan yang membantu mewujudkan wacana menjadi kenyataan, dengan menghentikan pembangunan permukiman dan lebih toleran dalam melihat problem kemanusiaan di Jalur Gaza.
Menlu AS itu mengimbau kedua pihak Israel-Palestina berani mengambil pilihan sulit, tetapi menjadi sebuah keharusan. Ia menyebut, berlanjutnya konflik dan situasi krusial seperti sekarang ini tidak membawa kebaikan bagi AS, di tengah dinamika perubahan komposisi demografi, ideologi, dan teknologi.
Hillary menegaskan, solusi dua negara adalah satu-satunya jalan yang bisa menjamin lestarinya Israel sebagai negara Yahudi yang demokratis. Meski Netanyahu dan Hillary berbeda pendapat soal permukiman Yahudi, keduanya sepakat soal Iran dan masa depan hubungan AS-Israel.
Netanyahu menyatakan, persahabatan AS-Israel tidak akan terongrong selama ada upaya menggerakkan perdamaian dan keamanan di antara Israel dan negara Arab tetangganya.
Hillary juga mengatakan hubungan AS-Israel itu strategis. Namun, lanjutnya, AS suatu saat sebagai sahabat Israel harus bertanggung jawab dengan mengatakan sesuatu yang hakiki, jika itu merupakan keharusan.
Hillary mengatakan hal itu secara tidak langsung menyinggung krisis hubungan AS-Israel terakhir ini akibat pengumuman rencana Israel membangun 1.600 unit rumah baru di Jerusalem Timur, saat Wapres AS Joe Biden berada di Israel.