Diplomasi

"Perseteruan" AS-Israel Berlanjut

Kompas.com - 24/03/2010, 03:17 WIB

Kairo, Kompas - Polemik Amerika Serikat-Israel ternyata masih berlanjut di forum konferensi lobi Yahudi di AS (AIPAC) di Washington DC. Kedua pihak itu mengabaikan kesepakatan pekan lalu untuk menghentikan polemik di depan publik.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu hari Senin (22/3) di depan forum AIPAC kembali menegaskan, kota Jerusalem bersatu adalah ibu kota abadi negara Israel, dan pembangunan perumahan di kota itu bukan kategori permukiman ilegal.

”Bangsa Yahudi membangun kota Jerusalem sejak tiga ribu tahun lalu dan akan terus membangun sekarang,” kata PM Israel itu. Netanyahu juga menuduh Otoritas Palestina tidak berani memberikan konsesi demi perdamaian.

Netanyahu menegaskan hal tersebut hanya beberapa jam setelah Menlu AS Hillary Clinton dalam forum yang sama memperingati dampak isu permukiman atas hubungan AS-Israel.

Hillary menyatakan, proyek pembangunan permukiman baru di Jerusalem Timur dan Tepi Barat akan mengganggu rasa saling percaya AS-Israel dan membahayakan rencana perundingan tidak langsung Israel-Palestina, serta melemahkan posisi AS sebagai pemain sentral dalam proses perdamaian.

Tuntut langkah signifikan

Hillary juga berharap Israel melakukan langkah signifikan yang membantu mewujudkan wacana menjadi kenyataan, dengan menghentikan pembangunan permukiman dan lebih toleran dalam melihat problem kemanusiaan di Jalur Gaza.

Menlu AS itu mengimbau kedua pihak Israel-Palestina berani mengambil pilihan sulit, tetapi menjadi sebuah keharusan. Ia menyebut, berlanjutnya konflik dan situasi krusial seperti sekarang ini tidak membawa kebaikan bagi AS, di tengah dinamika perubahan komposisi demografi, ideologi, dan teknologi.

Hillary menegaskan, solusi dua negara adalah satu-satunya jalan yang bisa menjamin lestarinya Israel sebagai negara Yahudi yang demokratis. Meski Netanyahu dan Hillary berbeda pendapat soal permukiman Yahudi, keduanya sepakat soal Iran dan masa depan hubungan AS-Israel.

Netanyahu menyatakan, persahabatan AS-Israel tidak akan terongrong selama ada upaya menggerakkan perdamaian dan keamanan di antara Israel dan negara Arab tetangganya.

Hillary juga mengatakan hubungan AS-Israel itu strategis. Namun, lanjutnya, AS suatu saat sebagai sahabat Israel harus bertanggung jawab dengan mengatakan sesuatu yang hakiki, jika itu merupakan keharusan.

Hillary mengatakan hal itu secara tidak langsung menyinggung krisis hubungan AS-Israel terakhir ini akibat pengumuman rencana Israel membangun 1.600 unit rumah baru di Jerusalem Timur, saat Wapres AS Joe Biden berada di Israel. (MTH)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau