Rumah di kawasan tersebut rata-rata berukuran besar, berlantai dua, dan sebagian berpagar tinggi. Umumnya, di setiap kluster di kawasan tersebut memiliki sistem pengamanan sendiri yang ketat sehingga longgar dari pengawasan polisi. Interaksi sosial di antara warga nyaris tidak terjadi dan tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitar mereka.
”Kondisi perumahan elite mendukung produsen membuat ekstasi dan sabu. Pelaku memanfaatkan longgarnya hubungan di antara tetangga di permukiman ini,” tutur Direktur Narkoba Polda Metro Jaya Komisaris Besar Anjan Pramuka, Selasa (23/3), yang ditemui di lokasi penggerebekan.
Anjan mengatakan, wilayah Jakarta Barat dan sekitarnya juga strategis sebagai tempat pemasaran narkoba. Pembuat bisa langsung mengirim ke kawasan lain di Indonesia melalui sejumlah pintu keluar di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Wilayah Jakarta Barat, tuturnya, juga dekat dengan konsumen pengguna narkoba. Di wilayah ini tumbuh pusat hiburan malam sehingga memungkinkan orang memproduksi narkotika.
Penggerebekan pabrik narkoba oleh petugas Polda Metro Jaya berlangsung di Perumahan Citra Extension II, Blok BB Nomor 6, Kelurahan Pegadungan, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat. Penggerebekan yang telah direncanakan dua bulan sebelumnya ini berakhir Senin pukul 19.00. Dalam penggerebekan ini, polisi berhasil menangkap AW (47), seorang lelaki yang diduga sebagai aktor utama pembuatan narkoba. AW menghuni rumah tipe 72 dua lantai yang mempunyai sembilan ruang. Rumah berpagar dua meter ini halamannya ditumbuhi ilalang liar setinggi setengah meter.
AW menyewa rumah ini sejak lima tahun lalu. ”Dia pemain lama dalam peredaran narkoba. Dia dalam daftar pencarian kami,” kata Anjan.
Sementara barang bukti yang disita petugas di antaranya 50 butir ekstasi dan 200 kg sabu. Anjan memprediksi nilai seluruh ekstasi dan sabu ini mencapai Rp 160,75 miliar. Nilai ini berdasarkan asumsi harga ekstasi Rp 150.000 per butir dan sabu senilai Rp 800 juta per kg.
”Temuan ini yang terbesar pada tahun 2010,” katanya.
Saat penggerebekan, polisi juga menemukan perangkat pembuat ekstasi dan sabu lengkap dengan bahannya. Perangkat itu di antaranya terdiri atas timbangan, alat pres, mangkok giling, gelas kaca, tabung bejana, dan tiang penjepit. Semua bahan ini disimpan AW di seluruh ruangan rumah sewaannya.
Sejak tahun 2010, Polda Metro Jaya menggerebek delapan pabrik narkotika di wilayah Jakarta Barat dan sekitarnya. Empat kasus di antaranya terjadi di Perumahan Taman Palem, Jakarta Barat. Pada waktu yang sama, Polda Metro Jaya menggerebek 10 pabrik narkotika di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Adapun sepanjang tahun 2009, petugas berhasil menggerebek 15 industri rumahan narkoba di Jabodetabek.
Direktur IV Narkoba Kejahatan Terorganisir Kepolisian Negara RI Brigadir Jenderal (Pol) Arman Depari mengatakan, penemuan ini mengejutkannya. Di lokasi tersebut, polisi menemukan bahan-bahan kimia yang semestinya tidak boleh bebas beredar di pasaran, di antaranya acetonum dan metanol. Bahan kimia ini peredarannya harus dalam pengawasan ketat.
”Kami akan panggil distributor barang,” ujarnya sembari meneliti satu per satu bahan kimia berbahaya di rumah AW. Hingga Selasa petang, polisi masih meneliti semua barang bukti di rumah itu. Selanjutnya, petugas akan membawa semua barang ini ke Markas Polda Metro Jaya.
AW merupakan sosok yang jarang dikenal warga di lingkungan perumahannya. Petugas keamanan Perumahan Citra Extension II, Samid, mengatakan, AW jarang berinteraksi dengan warga sekitarnya. Samid hampir tidak pernah bertemu dengan penghuni rumah Blok BB Nomor 6.
Hal yang sama diakui petugas keamanan yang lain, Trisno JA. Ia mengatakan, AW hanya keluar rumah pada malam hari atau dini hari. ”Kalaupun ketemu, kami tidak banyak bicara,” kata Trisno.
Ketua Tim Penangkapan Kepala Satuan II Psikotropika Ajun Komisaris Hendrajoni mengatakan diperlukan kesabaran mengungkap kasus ini. Pelaku sengaja membatasi interaksi sehingga polisi menunggu waktu yang tepat untuk masuk ke lokasi tersebut.
”Begitu ada tamu berinisial L, kami langsung masuk dan menyergap AW,” katanya.
Proses penangkapan berjalan lancar. Tidak ada perlawanan berarti dari AW dan tamunya L. Tidak lama setelah masuk ke rumah AW, petugas yang berjumlah 12 orang kemudian menguasai rumah itu.
Meski terjadi penggerebekan dengan mobil polisi, tidak ada warga sekitar rumah AW yang keluar rumah. Begitupun ketika wartawan ramai meliput rumah ini, Selasa siang hingga sore. (NDY)