Ternate Mulai Gelar Legu Gam Awal April

Kompas.com - 25/03/2010, 02:28 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com--Keraton Kesultanan Ternate menggelar pesta rakyat Maluku Utara, Legu Gam, pada 1-17 April 2010 untuk menarik kedatangan minimal 20.000 wisatawan ke daerah itu.

"Ini salah satu upaya kami untuk menarik lebih banyak kunjungan wisawatan ke Ternate," kata penggagas Legu Gam, Permaisuri Kesultanan Ternate, Boki Ratu Nita Budhi Susanti, dalam jumpa pers di Gedung Sapta Pesona Jakarta, Rabu.

Ia mengatakan, penyelenggaraan pesta rakyat Legu Gam bertujuan untuk mempromosikan pariwisata dan potensi wisata di Maluku Utara (Malut).

Menurut dia, Malut memiliki banyak tujuan wisata yang potensial untuk ditawarkan kepada wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

Legu Gam merupakan pesta rakyat masyarakat Ternate yang sudah diselenggarakan secara rutin dalam tujuh tahun terakhir sebagai peringatan ulang tahun Sultan Ternate dan tahun ini untuk menyambut ulang tahun Sultan ke-75.

"Di Malut kami memiliki 29 suku dengan 60 bahasa daerah, dengan segala macam potensi wisata yang ada mulai dari wisata budaya, wisata bahari, wisata sejarah, sampai wisata kuliner," katanya.

Ia berpendapat, sejak zaman dahulu kala, Ternate tersohor di seluruh dunia sebagai pulau yang kaya rempah-rempah sehingga paling banyak disinggahi oleh pelaut Eropa.

Permaisuri Boki yang dari tahun ke tahun menjadi penggagas gelaran itu mengatakan, Legu Gam yang telah masuk dalam agenda pariwisata nasional tiap tahun memiliki nilai strategis dalam mengangkat budaya lokal Moluku, Kie Raha, di tengah gempuran budaya asing.

"Tema yang diangkat tahun ini adalah ’Membangun Perekonomian Rakyat Melalui Adat Seatorang’," katanya.

Tema itu bertujuan untuk mewujudkan perekonomian yang kuat bagi rakyat Ternate. Untuk itu, pihaknya menilai harus ada pembinaan UKM salah satunya melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Dalam event itu, akan digelar sejumlah kegiatan di antaranya pameran, seminar, serta promosi khususnya yang terkait dengan perekonomian masyarakat setempat.

Sementara itu, Sultan Ternate ke-48, Jo Ou Kalano Sultan Mudaffar Sjah, mengatakan, Legu Gam dapat menjadi ajang untuk menampilkan adat dan tradisi Ternate kepada dunia luar termasuk masyarakat di luar negeri.

"Kita tahu bahwa pariwisata bisa menimbulkan rasa nasionalisme, selain itu, Legu Gam ini juga salah satunya untuk meningkatkan nilai- nilai budaya bangsa," katanya.

Dirjen Pemasaran Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Sapta Nirwandar, mengatakan, pihaknya telah mengalokasikan dana Rp500 juta untuk mendukung suksesnya festival tersebut.

"Legu Gam telah terdaftar dalam kalender event pariwisata nasional dan ke depan diharapkan akan menjadi daya tarik paket kunjungan ke Ternate," katanya.

Ia menambahkan, Malut khususnya Kesultanan Ternate telah tersohor di dunia sebagai pulau penghasil rempah-rempah.

"Ternate juga memiliki ratusan benteng salah satunya Benteng Orange yang dikenal sebagai benteng pertama di Indonesia yang dibangun kolonial Belanda ketika mencari rempah-rempah di Maluku sekitar abad 15-16 SM," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau