Ramai, Bursa Ketua Partai Demokrat

Kompas.com - 25/03/2010, 07:50 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Sejumlah kader Partai Demokrat mulai menyatakan niat masuk ke bursa calon ketua umum partai untuk periode 2010-2015. Pemilihan ketua umum Partai Demokrat akan berlangsung dalam kongres partai itu di Bandung, Jawa Barat, Mei.

Informasi yang dihimpun Kompas, Rabu (24/3/2010) kemarin, mereka yang akan mengikuti bursa ketua umum Partai Demokrat adalah Andi Mallarangeng (Menteri Pemuda dan Olahraga), Marzuki Alie (Ketua DPR), Anas Urbaningrum (Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR), Agus Hermanto (Wakil Ketua Komisi VI DPR), dan Jafar Hafsah (Wakil Ketua Komisi IV DPR).

Andi Mallarangeng akan mengumumkan pencalonannya pada 28 Maret 2010 di Wisma Proklamasi, Jakarta. "Partai Demokrat perlu mendapat 30 persen suara di Pemilu 2014. Sebab, 21 persen suara yang didapat di Pemilu 2009 ternyata tidak cukup," tutur Andi tentang salah satu targetnya jika menjadi ketua umum partai pemenang Pemilu 2009 ini.

Tentang restu dari Presiden Yudhoyono sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Andi menjawab, "Saya bekerja enam tahun bersama Presiden Yudhoyono. Karena kebersamaan itu, sekarang saya maju sebagai bakal calon ketua umum. Keputusan untuk maju ini juga sebagai amanah."

Marzuki Alie, yang juga mantan Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, mengatakan, dalam arahannya, Yudhoyono meminta kongres berjalan demokratis. "Kalau ada restu-restuan, nanti malah tidak demokratis," katanya.

Marzuki akan mengumumkan secara pasti tentang keikutsertaannya dalam bursa ketua umum Partai Demokrat setelah pertemuan prakongres yang digelar 28 Maret 2010.

Sementara itu, Anas Urbaningrum pada 22 Maret di Makassar, Sulawesi Selatan, sudah menyatakan kesiapannya untuk mengikuti bursa calon ketua umum Partai Demokrat.

Kesiapan untuk menjadi ketua umum Partai Demokrat beberapa kali juga telah disampaikan Agus Hermanto yang juga adik Ketua Umum Partai Demokrat Hadi Utomo, serta Jafar Hafsah.

Pengajar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Andrinof Chaniago, menuturkan, kongres pada Mei mendatang akan menentukan, Partai Demokrat menjadi partai keluarga atau bukan.

Yudhoyono masih memiliki peran yang amat menentukan di Partai Demokrat. "Namun, untuk masa depan partai dan makin meneguhkan cara-cara berdemokrasi, Yudhoyono harus secara bertahap mengurangi perannya di Partai Demokrat. Sebab, pengaruh Yudhoyono pada Pemilu 2014 belum tentu sebesar pada Pemilu 2009. Untuk itu, Demokrat harus mulai menyiapkan figur baru untuk Pemilu 2014," ujarnya.

Hadi Utomo mengakui, partainya tengah menjalin komunikasi serius dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). "Komunikasi dan silaturahim (dengan PDI-P) itu tetap kami bangun. Kami inginnya berkoalisi dengan semua partai karena visi dan misi semua partai sejatinya sama, yakni ingin menyejahterakan seluruh rakyat," kata Hadi Utomo di sela-sela Workshop Strategi Politik Partai Demokrat Wilayah Bali, NTB, dan NTT di Sanur, Bali, kemarin.

Demokrat menunggu

Hadi Utomo menyatakan, Partai Demokrat akan menunggu jadi tidaknya PDI-P berkoalisi dengan Demokrat hingga kepengurusan hasil Kongres PDI-P di Bali terbentuk. "Jadi, kami sangat terbuka dengan perkembangan baru. Kongres (PDI-P) itu hanya puncak, sementara pertemuan dan silaturahim sudah dijalin sebelumnya. Kita menunggu saja," katanya.

Menurut Hadi Utomo, struktur Partai Demokrat hingga ketua umum seperti dirinya tidak dalam posisi mengambil keputusan mengenai hal itu. Dalam struktur partai, Yudhoyono adalah Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat. (ben/nwo)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau