Memerangi TB dengan ISTC

Kompas.com - 25/03/2010, 09:26 WIB

KOMPAS.com - Salah satu masalah kesehatan terbesar di Indonesia adalah Tuberkulosis atau dikenal juga dengan TB. Hingga tahun 2010 ini, Indonesia masih menjadi negara dengan jumlah penderita TB tertinggi yakni menempati peringkat 3 dunia.

Untuk penanganan tuberkulosis, saat ini telah dibuatkan standar internasional yang disebut ISTC atau International Standard for Tuberkulosis Care. Menurut DR.dr. Zulkifli Amin, Sp.PD K(P) FCCP, dalam simposium memperingati hari TB sedunia di Rumah Sakit Ciptomangunkusumo (FKUI-RSCM), Rabu (24/3), ISTC merupakan sebuah standar prosedur tatalaksana tuberkulosis dalam proses diagnosis, pengobatan, kepatuhan berobat, peran pencegahan, serta tatalaksana khusus TB dan HIV serta Hepatitis yang muncul bersamaan.

Penanganan TB atau diduga TB di manapun di dunia seharusnya sama, yaitu diagnosis sedini mungkin, cepat dan akurat. Penerapan terapinya dilakukan dengan paduan obat baku yang telah terbukti efektif bersama dengan terapi penunjang dan pengawasan memadai serta pemantauan respon pengobatan ditambah tanggung jawab untuk melindungi masyarakat dari risiko tertular penyakit.

Diagnosis ISTC sendiri memiliki 6 standar :

1. Untuk diagnosis TB versi ISTC dijabarkan bahwa pada setiap orang dengan batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih yang tak jelas penyebabnya, harus dievaluasi untuk tuberkulosis. Khusus untuk anak-anak selain gejala batuk, harus diperhatikan gejala di mana berat badan sang anak sulit naik dalam waktu kurang lebih 2 bulan terakhir atau adanya gizi buruk pada anak.

2. Semua pasien baik dewasa, remaja dan anak yang diduga menderita TB paru harus menjalani pemeriksaan dahak di bawah pantauan mikroskop minimal 2 kali yang diperiksa di laboratorium yang kualitasnya terjamin. Jika memungkinkan, paling tidak satu sampel pemeriksaan harus berasal dari dahak pagi hari.

3. Diagnosis menjabarkan bahwa semua pasien baik dewasa, remaja dan anak yang diduga menderita TB esktra paru. Sampel pemeriksaan yang diambil dari bagian tubuh yang sakit seharusnya diambil juga untuk pemeriksaan mikroskopik, biakan kuman dan histopatologi. Sebaiknya dilakukan juga pemeriksaan foto rontgen paru untuk mengetahui ada tidaknya TB paru dan Tb milier. Pemeriksaan dahak juga dilakukan bila mungkin pada anak.

4. Sebaiknya setiap orang dengan temuan foto rontgen paru yang diduga tuberkulosis seharusnya menjalani pemeriksaan dahak secara mikrobiologis.

5. Pada pasien dengan dugaan diagnosis TB paru dan saat dilakukan pemeriksaan mikroskopik minimal 2 kali hasilnya negatif (termasuk minimal 1 kali dahak pagi hari), sedangkan temuan foto rontgen parunya sesuai dengan diagnosis TB serta tidak ada respon terhadap antibiotika spektrum luas, maka untuk pasien yang seperti ini harus dilakukan biakan dahak untuk mencari kumannya. Sedangkan untuk pasien - pasien khusus yang sakit berat atau diketahui atau diduga terinfeksi HIV maka evaluasi diagnostik harus dilakukan dengan segera dan jika bukti klinis sangat mendukung ke arah tuberkulosis maka pengobatan tuberkulosis harus segera dilakukan.

6. Pada semua anak yang diduga menderita tuberkulosis yang berada dalam intratoraks harus dilakukan pemeriksaan dahak sebagai konfirmasi. Jika hasilnya negatif, maka harus dilihat kelainan radiografi paru apakah sesuai dengan TB, pernahkah sang anak mempunyai riwayat terpapar kasus TB yang menular, bukti yang mendukung adanya infeksi TB dan temuan klinis yang mendukung ke arah adanya TB. Untuk anak yang diduga menderita TB paru maka sampel dari lokasi yang dicurigai harus diambil untuk dilakukan pemeriksaan mikroskopis, dibiakkan dan juga secara histopatologis.

Setelah diagnosis TB ditegakkan maka perlu dilakukan terapi yang membutuhkan kerjasama yang baik antara dokter dengan si pasien. Untuk standar terapi pada ISTC juga ada butir standar yang jelas dan mudah diterapkan. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau