MAKASSAR, KOMPAS.com - Bakal calon Ketua Tanfidziah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siradj menampik kebenaran isu adanya intervensi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada dirinya untuk maju sebagai salah satu kandidat.
Saat menggelar konferensi pers di Wisma Dirgantara Makassar, Jumat (26/3/2010), Wakil Ketua PBNU itu mengatakan, kunjungannya ke Presiden SBY sebelum muktamar hanya sebagai silaturahmi biasa untuk melaporkan pelaksanaan Muktamar ke-32 di Makassar.
"Saya ini orang yang paling susah didikte dengan siapa pun. Kalau tidak bisa melawan, minimal tidak mengikuti. Dulu, waktu Gus Dur istiqhosah dengan Mbak Tutut, saya tidak hadir," tegasnya.
Menurutnya, Presiden SBY sama sekali tak memberi dukungan hanya menanyakan prioritas kerja yang akan dilakukan dalam muktamar.
Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi mengatakan, isu intervensi tidak terasa secara institusional di tubuh NU, namun hanya di beberapa orang yang meributkan hal tersebut. "Kalau intervensi secara institusi itu tidak ada, tapi kalau secara personal itu memang terasa," ujarnya.
Hasyim menambahkan, hal tersebut hanya diembuskan oleh orang-orang yang ingin membuat suasana muktamar menjadi lebih dinamis dan berwarna.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang