Menurut Andi, pengurus PSSI juga harus legawa menerima hasil rekomendasi. ”Ini adalah kehendak Presiden yang disambut masyarakat luas. Saya tidak mau mendahului kongres, tetapi apa pun rekomendasi yang dihasilkan nanti harusnya dijalankan. Semoga hasil kongres bisa meningkatkan prestasi sepak bola nasional kita,” tutur Andi seusai membuka Kejuaraan Nasional Karate Piala KSAD X, Jumat (26/3) di Surabaya, Jawa Timur.
Secara terpisah, pengurus Persela Lamongan, Yurohnur Effendi, berharap kongres dapat menghasilkan perubahan positif bagi dunia sepak bola Indonesia. ”Selama ini PSSI kurang tegas soal keputusan-keputusan yang mereka buat. Misalnya, soal sanksi. Sering kali sanksi yang sudah ditetapkan berubah lagi. Saya harap ke depan PSSI lebih konsisten dan tegas,” ujarnya.
Menjelang pelaksanaan Kongres Sepak Bola Nasional (KSN) di Malang, Jawa Timur, 30-31 Maret, PSSI terus bergerilya mencari dukungan dari klub sepak bola. Pertemuan menggalang dukungan klub-klub itu dijadwalkan bakal dilangsungkan di Hotel Shangri-La, Surabaya, 27-28 Maret atau dua hari menjelang KSN.
Ketua Harian Persikab Kabupaten Bandung Rudie Kusmayadi, membenarkan adanya undangan itu. ”Undangan melalui layanan pesan singkat (SMS) saya terima Jumat (26/3) dini hari,” ujarnya sambil menunjukkan SMS staf PT Liga Indonesia, Jumat.
Patut diduga, langkah tersebut untuk memperlunak sikap klub agar tidak memunculkan rekomendasi menggelar kongres luar biasa (KLB) PSSI. Klub-klub, mulai dari Liga Super hingga Divisi III, memiliki 70 suara atau hampir dua per tiga dari total 108 pemilik suara anggota PSSI.
Menurut Statuta PSSI, dua per tiga anggota bisa mengusulkan KLB. Jika pengurus PSSI tidak menuruti usulan KLB dari dua per tiga anggotanya, para anggota pengusung KLB itu bisa menggelar kongres sendiri di bawah panduan FIFA (Pasal 31).
Sebanyak 33 suara anggota PSSI dipegang pengurus provinsi (Pengprov) yang sudah dirangkul pengurus PSSI lewat pertemuan di Jakarta, beberapa hari lalu.
Di Surabaya, Ketua Panitia Rembuk Sepak Bola Nasional (RSN) Lutfil Hakim menyatakan, sepak bola bukan milik Nurdin Halid, Ketua Umum PSSI. Namun, Nurdin tetap harus diajak bicara apabila ada pembahasan sepak bola nasional.
Lutfil mengatakan, sampai saat ini Nurdin masih menjadi Ketua Umum PSSI. Oleh karena itu, wajar Nurdin ikut diajak bicara apabila ada pembahasan soal sepak bola nasional.
Menurut Wakil Ketua Panitia KSN Attal Depari, Nurdin tidak hanya diajak bicara, tetapi juga dijadikan pembicara atau narasumber KSN yang rencananya bakal dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Lutfil memaparkan, Nurdin dilibatkan dalam RSN yang digelar di Surabaya, mulai Sabtu ini hingga Senin (27-29 Maret). Panitia RSN juga mengundang antara lain CEO PT LSI Joko Driyono, Ketua PSSI Riau Indra Muchlis, dan Ketua PSSI Jawa Timur Haruna Soemitro sebagai pembicara. Juga direncanakan hadir Ketua Umum PWI Pusat Margiono dan sosiolog Hotman Siahaan.
Melihat waktu pelaksanaan yang persis mendahului KSN, RSN disebut-sebut menjadi forum tandingan KSN. Namun, itu dibantah Lutfil. RSN, menurut panitia, juga bukan ajang konsolidasi PSSI menghadapi KSN.
Secara terpisah, Ketua Umum KSN Agum Gumelar dalam konferensi pers di Jakarta mengatakan, secara keseluruhan panitia KSN sudah siap menyelenggarakan kongres. Sebanyak 500-an undangan dari empat unsur, yaitu Kementerian Pemuda dan Olahraga, KONI, PWI, serta PSSI dipastikan akan mengikuti KSN.
Undangan sebanyak itu akan diinapkan di delapan hotel di Malang. Acara pembukaan KSN akan dipusatkan di Gedung Olahraga Ken Arok, Malang.
”Para undangan dan masyarakat sepak bola mengikuti pembukaan dan setelah itu kongres dipusatkan di salah satu hotel,” ujar Agum.
Agum juga mengungkapkan, selain kesiapan untuk undangan, panitia juga menyiapkan pengamanan untuk kedatangan Presiden. Secara keseluruhan, Agum memperkirakan anggaran yang dibutuhkan untuk mengadakan perhelatan KSN sebanyak Rp 2 miliar.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal KSN Johar Arifin mengatakan, panitia tidak mengundang perwakilan dari FIFA atau AFC. Alasannya, KSN bukan kongres PSSI.