KOMPAS.com - Mengisi perut tak sekadar mencari kenyang. Tren bisnis restoran kini makin memanjakan pelanggannya dengan tatanan khas nan nyaman. Resto bergaya rumahan, kampung halaman, atau pasar pecinan bisa jadi pilihan.
Coba datanglah ke Eat and Eat Creating Food Adventure di Mal Kelapa Gading 5. Di bagian muka, Anda akan menemukan tempat cukur ”Pangkas Rambut Rapih” yang bergaya kuno. Pengunjung yang mau cukur saja bayar Rp 15.000. Tetapi, yang mau cukur dan nyapu, cukup bayar Rp 7.000. Sapu lidinya sudah disiapkan di samping meja cukur.
Meja kayu dan kursi cukur terlihat sangat kuno. Kesan zaman dulu (zadul) makin terasa karena ada beberapa kosmetik rambut yang berjaya pada tahun 1970-an juga dipajang di sana.
Tempat cukur ini memang cuma interior yang membuat suasana di Eat and Eat terlihat seperti pasar pecinan tempo dulu. Kedai-kedai makanan berjajar di tengah maupun di tepi areal seluas 2.350 meter persegi itu. Seluruh interior menggunakan kayu tua yang memang dicari khusus dari Sumatera dan Jawa.
Genteng, pintu tua, dan kurungan ayam yang digantung di langit-langit menambah suasana di tempat makan itu seperti pasar. Hiruk-pikuk pasar akan semakin terasa saat jam makan ketika konsumen berdesakan datang.
Sekilas, suasana di Eat and Eat mirip dengan Food Republic di Vivo City, Singapura. Namun, interior Eat and Eat jauh lebih bervariasi karena memang budaya dan tradisi Indonesia jauh lebih banyak dibandingkan Singapura.
Soal makanan, di tempat ini ada kedai makanan dan warung kopi. Juga ada gerobak-gerobak cemilan tempo dulu, yang bisa memuaskan rasa kangen.
Menurut Deni A Rahman, General Manager Eat and Eat, makanan yang ingin ditonjolkan adalah makanan tradisional, baik itu Indonesia maupun Asia. Ada makanan Singapura, Malaysia, Vietnam, dan Thailand.
”Konsep kami bukanlah makanan siap saji. Kira-kira kelasnya itu di atas food court, tetapi bukan restoran,” kata Deni.
Untuk bisa makan di sini, konsumen harus memakai kartu khusus, baik yang berlaku satu bulan maupun yang berlaku selamanya. Konsumen bisa mengisi ulang kartu ini.
Waroeng Solo
Salah satu restoran gaya kampung bisa ditemukan di Jalan Madrasah Nomor 14 tak jauh dari kompleks pemakaman umum Jeruk Purut di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. ”Joglo at Kemang”, tulisan di gapura utama, segera menyambut pelanggan sebelum memasuki area luas dengan tiga joglo atau rumah khas Solo dan satu gedung serba guna.
Joglo pertama yang terlihat terkesan begitu ndeso. Papan- papan dinding kayu dibiarkan berwarna kusam, jendela-jendela lebar terbuka, dan di emperan di bawah naungan atap terdapat sederet mesin jahit yang bagian atasnya dimodifikasi ditutup dengan marmer dan difungsikan sebagai meja. Meja mesin jahit ini dipadukan dengan dingklik atau kursi kayu panjang. Rumah ndeso inilah Waroeng Solo yang khusus menyediakan makanan khas Solo.
”Sugeng rawuh, monggo pinarak mlebet (Selamat datang, silakan masuk),” demikian sapa para karyawan warung ini setiap kali menyambut tamu. Saat menanyakan menu pesanan pun, bahasa Jawa halus digunakan. Bagi yang tidak paham bahasa Jawa, para karyawan dengan senang hati segera berbahasa Indonesia.
Memasuki ruang tengah warung ini dijumpai beberapa meja mesin jahit dan dingklik serupa. Pilar-pilar penyokong joglo sekaligus menjadi tempat bergantungnya kaleng–kaleng kerupuk. Di dinding joglo terpampang aneka foto dan lukisan zadul, antara lain, foto mantan Presiden RI Soekarno, koleksi si empunya warung.
Di sebuah papan di pojok ruangan tertulis menu spesial hari itu, sayur lodeh. Irisan terung, buah melinjo, daun melinjo, dan sayuran lain dimasak dalam kuah santan yang gurih disantap dengan nasi pulen ditambah sambal.
Di atas meja besar di ruang tengah tersedia aneka sayur, nampan-nampan berisi makanan ringan asli Solo, sampai aneka kerupuk. Ada lebih dari 20 menu masakan yang tersedia.
”Menu spesial atau yang paling laris di sini nasi liwet. Selain itu, ada salad solo yang banyak ditanyakan pelanggan,” kata Usnul Chotimah, pengelola Waroeng Solo. (Neli Triana dan M Clara Wresti)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang