Ekspedisi

Wanadri Fokus pada Perubahan Cuaca

Kompas.com - 30/03/2010, 02:45 WIB

Bandung, Kompas - Perubahan cuaca dan keamanan masih akan menjadi perhatian utama Tim Ekspedisi Tujuh Atap Dunia Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri. Hingga Senin (29/3), Wanadri menyatakan, ekspedisi tetap dilaksanakan mulai tanggal 5 April dan berakhir tiga tahun ke depan.

”Tahun 2010 fokus utama adalah Cartenz Pyramid, Kilimanjaro, Vinson Massif, dan Mckinley. Untuk Elbrus, Aconcagua, dan Everest difokuskan tahun selanjutnya,” ujar Ketua Harian Tim Ekspedisi Tujuh Atap Dunia Wanadri Yoppy Rikson Saragih di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (27/3) malam.

Istilah Tujuh Puncak Tertinggi di Dunia (The Seven Summits of the World) diperkenalkan pendaki Richard Bass pada 1980-an. Tempat itu adalah Puncak Jaya atau Cartenz Pyramid di wilayah Australia-Oceania dengan ketinggian 4.884 meter, Kilimanjaro di Afrika (5.895 meter), Elbrus di Eropa (5.642 meter), Vinson Massif di Antartika (4.892 meter), Mckinley di Amerika Utara (6.194 meter), Aconcagua di Amerika Selatan (6.962 meter), dan Everest di Asia (8.850 meter).

Enam anggota Wanadri yang akan mencoba mendaki ketujuh gunung itu adalah Iwan Irawan dari angkatan Tapak Lembah (1993), Ardesir Yaftebbi (Hujan Rimba 2005), serta empat orang dari angkatan Bayu Windu 2008, yakni Martin Rimbawan, Nur Huda, Fajri Al Lutfi, dan Gina Afriani.

Menurut Yoppy, cuaca akan mendapat perhatian besar, khususnya dalam pendakian di Cartenz Pyramid. Alasannya, sama seperti di Pulau Jawa atau daerah Indonesia lainnya, cuaca di sekitar Cartenz Pyramid juga tidak menentu.

Ia berharap ekspedisi berjalan sesuai dengan rencana mengingat pemusatan latihan dan berbagai simulasi sudah dilakukan untuk meminimalkan dampak perubahan cuaca. ”Simulasi dilakukan di Gunung Semeru, Gunung Gede, dan Tebing Citatah,” ujar Yoppy seraya menambahkan, soal keamanan, pihaknya sudah mendapat izin dan selalu berkoordinasi dengan kepolisian dan TNI.

Khusus pendakian Cartenz Pyramid, lanjutnya, 11 pendaki senior Wanadri akan mendampingi enam pendaki utama Pendakian Tujuh Atap Dunia 2010. Tujuannya, memberi semangat agar mampu menjalankan misi pendakian. ”Pendaki senior akan ikut mengantarkan pendakian pertama hingga ketinggian sekitar 4.000 meter,” kata Yoppy.

Pendaki senior yang dimaksud adalah Endriartono Sutarto, Erry Riyana Harjapamengkas, Iwan Abdurahman, Remmy Tjahari, Iwan Bungsu, Eric Martialis, Mohammad Gunawan, Yoppy Rikson, Setyo Ramadi, Trinovi, dan Bambang Hamid.

Menurut Ketua Umum Pendakian Endriartono Sutarto, semangat anggota Wanadri ini menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Pada saat hampir tidak ada lagi yang dibanggakan, niat dan semangat mereka bisa menjadi oase di tengah kekeringan nasionalisme warga Indonesia. ”Saya berharap ini bukan yang pertama dan bisa menjadi semangat dan pemicu bagi masyarakat Indonesia lain untuk selalu mengukir kebanggaannya kepada negara,” katanya. (CHE)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau