Pancing Gayus, Polri Harus "Cokok" Orang Dekatnya

Kompas.com - 30/03/2010, 15:45 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Singapura menjadi tempat favorit para koruptor "melarikan diri". Jalan itu pula yang dipilih oleh pegawai golongan IIIA Ditjen Pajak, Gayus Tambunan, yang kini menjadi buruan polisi.

Gayus, yang disangkakan kasus dugaan mafia kasus pajak, berangkat ke Singapura sejak 24 Maret lalu dengan alasan berobat. Hingga kini, ia belum berhasil dibekuk.

Anggota Komisi Hukum DPR, Trimedya Pandjaitan, mengatakan bahwa sulit untuk menangkap Gayus jika sudah berada di Negeri Singa itu. Tak adanya perjanjian ekstradisi antara Pemerintah Indonesia dan Singapura membuat pihak kepolisian mustahil untuk membawa pulang lulusan STAN itu ke Tanah Air.

"Kalau memang sudah di Singapura, dia sudah berada di surga para koruptor. Walaupun ketemu di Orchard Road, enggak akan bisa ditangkap," kata Trimedya, Selasa (30/3/2010) di Gedung DPR, Jakarta. Polisi hanya bisa berharap, Gayus mau menyerahkan diri.

Langkah lain, polisi bisa memulainya dengan "mencokok" orang-orang terdekat ataupun atasannya yang diduga terlibat dalam kasus tersebut. "Siapa tahu untuk kepentingan keluarga dan dirinya sendiri, dia mau hadir. Tetapi Polri bisa mengambil jalan. Siapa dulu yang bisa disentuh. Misalnya keluarga, orang dekat, atau atasannya," ujarnya.

Mantan Ketua Komisi III ini juga mengungkapkan kekecewaannya atas kelambanan Satgas Pemberantasan Mafia Hukum yang tak segera berkoordinasi dengan Polri untuk menahan atau mencekal Gayus. Sebelum lari ke Singapura, Satgas mengakui telah tiga kali meminta kesaksian Gayus.

"Seharusnya Satgas bisa mencium kemungkinan dia akan melarikan diri dan berkoordinasi dengan Polri untuk memantau pergerakannya," kata politisi PDI Perjuangan ini.

Polri, dalam keterangannya pekan lalu, mengaku telah kecolongan. Pencekalan terhadap Gayus baru dilakukan sehari setelah yang bersangkutan diketahui telah terbang ke Singapura.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau