Menkeu: Budaya "Ewuh Pekewuh" Harus Dihilangkan

Kompas.com - 30/03/2010, 19:29 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengakui masih lemahnya sistem pengawasan di lingkungan kementeriannya terkait kasus Gayus Tamabunan, pegawai pajak yang terlibat markus pajak. Salah satu penyebab lemahnya sistem pengawasan ini, menurut Menkeu, karena hingga kini masih berkembang budaya saling "sungkan" di antara internal Direktorat Jenderal Pajak. Alhasil, penegakan etika dan disiplin pegawai di institusi ini pun menjadi lemah.

"Dalam kultur birokrasi, ewuh pakewuh (sungkan), ini harus dihilangkan. Siapa pun dia," ujarnya saat jumpa pers di Kantor Ditjen Pajak, Jakarta, Selasa (30/3/2010).

Menurutnya, perasaan pakewuh antarpegawai masih susah dihilangkan. Akibatnya, saat muncul kecurigaan terhadap salah satu pegawai di lingkungannya yang melakukan penyelewengan, mereka lebih cenderung untuk mendiamkannya. "Mungkin karena mereka belajar dan mondok di tempat yang sama lalu menjadi tidak enak untuk melaporkan tindakan mencurigakan dari rekan kerjanya," tuturnya.

Hal senada dilontarkan oleh Ketua Komite Pengawas Perpajakan (KPP) Anwar Suprijadi. "Problemnya kan ewuh pakewuh," ujarnya pada tempat yang sama.

Untuk itu, tambah Menkeu, pihaknya akan memperbaiki mekanisme whistle blower atau sistem pengaduan di Ditjen Pajak. Sistem ini berfungsi untuk menerima pengaduan dari para pegawai yang menemukan kecurigaan terhadap salah satu rekannya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau