Hanung: Kualitas Film Indonesia Mandek

Kompas.com - 30/03/2010, 20:12 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Perkembangan film dalam negeri, jika dilihat dari segi kuantitas, memang menggembirakan. Namun, dari sisi kualitas, menurut penilaian sutradara Hanung Bramantyo, tidak demikian.

 

"Kalau saya melihat secara kuantitas tentu membahagiakan. Dulu, ketika pertama kali saya datang ke Jakarta, setiap melihat bioskop enggak ada film Indonesia. Kalaupun ada film Indonesia, adanya film yang isinya tentang seks," cerita Hanung di sela acara Hari Film Nasional di Club XXI Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Selasa (30/3/2010).

 

Lanjut suami pesinetron yang juga pemain film Zaskia Adya Mecca ini, perkembangan kuantitas film semakin membaik sejak 2001. "Dimulai ketika ada Petualangan Sherina dan AADC? (Ada Apa dengan Cinta?) kemudian ada Jelangkung. Tiga genre ini yang menjadi awal kebangkitan film Indonesia," kata Hanung.

 

Namun, Hanung menyayangkan, seiring perkembangan film Indonesia dimulai, akhirnya genre film anak harus mengalah kepada film horor. "Tapi, sayangnya genre untuk anak sekarang hilang. Akhirnya, yang merajai sekarang horor. Mulai dari horor yang sopan sampai horor yang tidak sopan," katanya lagi.

 

Hanung menyimpulkan, dari sisi kualitas perfilman Indonesia justru mandek. "Kalau secara kualitas, film kita selalu mengalami kemandekan. Jangankan soal teknik, dalam segi cerita pun selalu ada pengulangan. Termasuk film horor, tidak ada yang baru, selalu seperti itu," ulasnya.

 

Karena alasan itulah Hanung menganggap film horor terkesan kacangan. "Itu yang membuat film horor itu terkesan gampang. Itulah yang membuat film horor terasa kacangan. Karena, orang menganggap film horor itu gampang dan bikinnya cepat. Yang penting, asal bikin kaget, terus penonton suka. Ditambah lagi, dengan judul yang dibuat seseram mungkin," ujarnya. "Itu yang buat pandangan orang rendah terhadap film horor," sambungnya. "Itu yang membuat saya merasa kualitas film kita kembali ke awal 1990-an," imbuhnya.

 

Bagi Hanung, memproduksi film horor tak semudah yang dibayangkan. "Saya sendiri saja merasa tidak mampu membuat film horor, karena butuh kecerdasan tersendiri dan butuh teknologi tersendiri. Karena, bagi saya, membuat film horor itu ada kesulitan tersendiri," ucapnya. (FAN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau