JAKARTA, KOMPAS.com — Perkembangan film dalam negeri, jika dilihat dari segi kuantitas, memang menggembirakan. Namun, dari sisi kualitas, menurut penilaian sutradara Hanung Bramantyo, tidak demikian.
"Kalau saya melihat secara kuantitas tentu membahagiakan. Dulu, ketika pertama kali saya datang ke Jakarta, setiap melihat bioskop enggak ada film Indonesia. Kalaupun ada film Indonesia, adanya film yang isinya tentang seks," cerita Hanung di sela acara Hari Film Nasional di Club XXI Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Selasa (30/3/2010).
Lanjut suami pesinetron yang juga pemain film Zaskia Adya Mecca ini, perkembangan kuantitas film semakin membaik sejak 2001. "Dimulai ketika ada Petualangan Sherina dan AADC? (Ada Apa dengan Cinta?) kemudian ada Jelangkung. Tiga genre ini yang menjadi awal kebangkitan film Indonesia," kata Hanung.
Namun, Hanung menyayangkan, seiring perkembangan film Indonesia dimulai, akhirnya genre film anak harus mengalah kepada film horor. "Tapi, sayangnya genre untuk anak sekarang hilang. Akhirnya, yang merajai sekarang horor. Mulai dari horor yang sopan sampai horor yang tidak sopan," katanya lagi.
Hanung menyimpulkan, dari sisi kualitas perfilman Indonesia justru mandek. "Kalau secara kualitas, film kita selalu mengalami kemandekan. Jangankan soal teknik, dalam segi cerita pun selalu ada pengulangan. Termasuk film horor, tidak ada yang baru, selalu seperti itu," ulasnya.
Karena alasan itulah Hanung menganggap film horor terkesan kacangan. "Itu yang membuat film horor itu terkesan gampang. Itulah yang membuat film horor terasa kacangan. Karena, orang menganggap film horor itu gampang dan bikinnya cepat. Yang penting, asal bikin kaget, terus penonton suka. Ditambah lagi, dengan judul yang dibuat seseram mungkin," ujarnya. "Itu yang buat pandangan orang rendah terhadap film horor," sambungnya. "Itu yang membuat saya merasa kualitas film kita kembali ke awal 1990-an," imbuhnya.
Bagi Hanung, memproduksi film horor tak semudah yang dibayangkan. "Saya sendiri saja merasa tidak mampu membuat film horor, karena butuh kecerdasan tersendiri dan butuh teknologi tersendiri. Karena, bagi saya, membuat film horor itu ada kesulitan tersendiri," ucapnya. (FAN)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang