Agar Diterima Uni Eropa, Turki Minta Tolong Jerman

Kompas.com - 31/03/2010, 15:37 WIB

ISTAMBUL, KOMPAS.com - Perdana Menteri Turki, Tayyip Erdogan, minta Kanselir Jerman, Angela Merkel, untuk menolong Turki agar dapat menjadi anggota Uni Eropa. Perselisihan Turki dengan Siprus tampaknya membuat Turki kesulitan untuk menjadi anggota Uni Eropa. Merkel berkunjung ke Turki, Selasa.

Merkel menyatakan, pembicaraan Turki untuk masuk blok 27 negara itu tak terbatas, tapi menasehati agar Turki memilih kemitraan dengan hak-hak istimewa dengan Uni Eropa. Turki bersikeras bahwa negara itu tidak ingin kurang dari keanggotaan penuh. Turki frustrasi karena proses itu berjalan sangat lambat. Rintangan terbesar Turki adalah peselisihannya dengan Siprus.

Turki telah membuka 12 dari 35 bidang yang dirundingkan, yang mencakup berbagai bidang kebijakan yang berbeda, sejak memulai pembicaraan resmi untuk masuk keanggotaan pada 2005. Tapi 18 bidang telah diblokir, sebagian besar karena Siprus. Ketika menghadiri pertemuan para pemimpin usaha Turki dan Jerman dengan Merkel, Erdogan membicarakan mengenai bahaya kebuntuan itu jika Turki menyelesaikan bidang lainnya pada akhir tahun ini.

"Apa yang akan terjadi nanti?," kata Erdogan. Ia menyampaikan pertanyaan apakah bidang yang tersisa dapat direvisi atau apakah Uni Eropa akan mengambil keputusan baru mengenai masalah itu. "Kami akan mengharapkan banyak dari Jerman pada waktu itu," kata Erdogan.

Pembicaraan masih ditangguhkan dalam delapan bidang yang dibekukan oleh EU pada 2006 karena kegagalan Turki untuk memenuhi perjanjian tahun 2005, yang dikenal sebagai Protokol Ankara, untuk membuka bandara dan pelabuhannya bagi Siprus. Turki ingin Uni Eropa pertama-tama mengakhiri pengucilannya atas masyarakat Siprus Turki yang tinggal di bagian utara pulau yang terbagi itu, dan mengharapkan pembicaraan reunifikasi Siprus akan membuahkan hasil.

Masyarakat Siprus Turki tahun 1983 mengumumkan sebuah negara terpisah, yang hanya diakui oleh Turki. Para pejabat Turki sekarang khawatir bahwa jika Presiden Siprus Turki, Mehmet Ali Talat, kalah dalam pemilihan bulan depan, pembicaraan reunifikasi akan mengalami kemunduran dan upaya Turki untuk mendapatkan keanggotaan Eropa akan menghadapi rintangan.

Merkel, pada hari kedua dan terakhir dari kunjungannya ke Turki, menyatakan, Protokol Ankara ditujukan untuk membuat kemajuan. "Kita akan maju secara pragmatis. Maju secara pragmatis berarti meneruskan proses pembicaraan. Kita telah membicarakan bahwa Protokol Ankara mungkin pada saat ini merupakan rintangan sangat besar," katanya. "Itu alasannya beberapa bidang tidak dibuka."

Selain bidang yang ditangguhkan oleh Uni Eripa, Siprus telah merintangi enam bidang lagi, sementara Perancis merintangi empat bidang ekonomi. Keanggotaan Turki merupakan hal yang memecah-belah Eropa. Beberapa pengkritik menyatakan, perbedaan kultural dengan negara yang dominan Muslim itu akan merintagi integrasi. Turki juga harus memperkenalkan pembaruan politik dan ekonomi serta meningkatkan catatan hak asasi manusianya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau