JAKARTA, KOMPAS.com - Kurs rupiah terhadap dollar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Rabu (31/3/2010) sore turun 10 poin menjadi Rp 9.090-Rp 9.100 per dollar AS, karena pelaku pasar masih melepas rupiah, meski saham-saham AS cenderung menguat.
Analis Valas PT Valbury Asia Securities, Krisna Dwi Setiawan di Jakarta, Rabu mengatakan, pelaku pasar sebenarnya agak ragu-ragu melepas rupiah, karena adanya faktor positif dari pasar eksternal. "Namun pelaku pasar cenderung merealisasikan keuntungan ketimbang membeli rupiah," katanya.
Krisna Dwi Setiawan mengatakan, tekanan terhadap rupiah saat ini agak mengecil akibat berkurangnya aksi lepas rupiah di pasar. "Meski rupiah terkoreksi 10 poin, namun posisinya masih dibawah angka Rp 9.100 per dollar AS," ucapnya.
Karena itu, lanjut dia, peluang rupiah untuk kembali menguat masih tetap tinggi, karena dinamika global dan regional masih positif untuk memicu rupiah kembali menguat. "Rupiah saat ini terkoreksi, namun kedepana akan kembali menguat lebih tinggi hingga menembus angka Rp 9.000 per dollar AS," katanya.
Ia mengatakan, laju inflasi Maret yang hanya 0,07 persen menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia makin membaik yang akan mendorong pelaku asing terus menempatkan dananya di pasar domestik. "Kami memperkirakan pada pekan depan dominasi aksi beli terhadap rupiah akan kembali terjadi," katanya.
Menurut dia, posisi rupiah saat ini sudah cukup baik, namun dukungan untuk kembali menguat agak besar, dengan terus masuk dananya asing ke pasar. "Karena itu peluang untuk bisa mencapai dibawah angka Rp 9.000 per dollar AS sangat besar," ucapnya.
Di pasar lokal sendiri, menurut dia masih tetap tenang belum ada isu, meski perbankan diminta untuk segera menurunkan suku bunga kredit dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional tumbuh lebih tinggi. "Kami optimis perbankan akan menurunkan lagi suku bungnnya agar ekonomi tumbuh lebih baik," ujarnya.