BAENGNYEONG, KOMPAS.com — Kepala Angkatan Laut Korea Selatan Kim Sung-Chan mengatakan, ruang gudang mesiu dalam kapal perang itu tampaknya tidak meledak.
"Ruang gudang mesiu tidak meledak. Kapal terbelah menjadi dua karena kuatnya tekanan dari luar atau suatu ledakan (di luar)," katanya.
Surat kabar Dong-A Ilbo mengatakan, intelijen AS dan Korsel telah menunjukkan foto satelit kapal selam yang bergerak di dalam dan di luar pantai barat pangkalan Sagot di Korut, sebelum dan setelah kapal itu karam.
"Kapal selam atau semikapal selam Korea Utara sering timbul dan tenggelam, dan sulit untuk mengaitkan hal itu dengan insiden tersebut," katanya mengutip sumber pemerintah Seoul.
Kementerian Pertahanan mengatakan, pihaknya tidak akan mengomentari laporan itu. Sebanyak 58 orang berhasil diselamatkan dari haluan kapal dengan panjang 88 meter tersebut, segera setelah kapal mulai tenggelam.
Harapan-harapan untuk menemukan orang-orang yang diduga masih bertahan hidup mulai pudar Senin, ketika para penyelam tidak mendengar jawaban setelah menggedor pada dua bagian kapal yang karam di lepas pantai pulau Baengnyeong itu.
Namun, keluarga-keluarga korban marah dan mencucurkan air mata meminta tindakan penyelamatan diteruskan.
Puluhan penyelam berusaha melawan kuatnya arus gelombang Laut Kuning dan air yang dingin dan berupaya masuk ke dalam kapal yang terbelah tersebut.
Namun, salah seorang di antara mereka, Han Joo-Ho, ayah dari dua anak, pingsan pada Selasa dan akhirnya meninggal.
Juru Bicara Kementerian Pertahanan Won Tae-Jae mengatakan, gelombang di perairan itu pada Rabu (31/3/2010) mencapai ketinggian 2,5 meter dan angin juga bertiup kencang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang