1 dari 5 Orang Mengecek E-mail Pasangannya

Kompas.com - 31/03/2010, 20:02 WIB

KOMPAS.com - Memang paling mencemaskan bila melihat tanda-tanda pasangan punya perhatian pada pria atau wanita lain. Tidak mengherankan bila orang cenderung ingin mengintip apa isi e-mail atau SMS pasangannya. Hal ini sudah jamak ditemukan, bahkan penelitian menunjukkan bahwa satu dari lima suami (atau istri) ternyata punya kebiasaan mengecek e-mail pasangannya.

Studi yang bertema "Netiquette di Antara Pasangan Menikah" ini menganalisa data dari hampir 1.000 pasangan di Inggris. Tim peneliti datang dari London School of Economics, University of Oxford dan Nottingham Trent University.
 
"Penemuan kami menunjukkan bahwa ada tingkat pengawasan yang tinggi terhadap pasangan. Salah satu temuan cukup mengejutkan, karena lebih sering dilakukan oleh istri ketimbang suami," jelas Ellen Helsper, pemimpin studi tersebut.

Hal ini sebenarnya bertentangan dengan penelitian yang mengatakan bahwa perempuan cenderung kurang memahami teknologi daripada pria. Dalam kasus ketika mereka curiga pasangan berselingkuh, perempuan akan mengalahkan kondisi gapteknya itu dengan mengecek SMS atau e-mail pasangannya.

Para peneliti, yang melaporkan temuan mereka di jurnal Computers in Human Behavior minggu ini, menganalisa jawaban dari serangkaian pertanyaan yang dilontarkan mengenai penggunaan internet.

Hasilnya menunjukkan bahwa 8 persen pria dan 14 persen wanita membaca e-mail pasangannya. Dalam satu dari lima hubungan tersebut, setidaknya satu pasangan mengecek history pada browser internet yang baru digunakan pasangannya. Terlihat juga bahwa 7 persen pria dan 13 persen wanita mengecek SMS pasangannya. Satu persen pria maupun wanita juga menggunakan software untuk memonitor komputer, dan 1 persen lagi menunjukkan bahwa suami atau istri berpura-pura menjadi orang lain untuk mengontak pasangannya.

"Terlihat jelas bahwa pengguna internet tidak ragu mengambil tindakan ketika mereka berpikir pasangannya mungkin melakukan sesuatu yang tidak mereka sukai," kata Helsper lagi.

Apa pun alasan yang digunakan untuk mengawasi, memata-matai pasangan ternyata jauh lebih sering dilakukan daripada yang kami asumsikan. Buktinya, satu dari tiga pasangan setidaknya memiliki satu pasangan yang memonitor perilaku pasangannya dengan menggunakan perangkat teknologi tertentu.

Rasa insecure ini ternyata tak hanya dialami oleh mereka yang pengantin baru, lho. Rata-rata usia responden yang mengambil bagian dalam penelitian ini adalah 49 tahun. Mereka adalah pasangan yang rata-rata sudah menikah selama 19 tahun, dengan jumlah rata-rata 1,6 anak.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau