Miranda Gultom Akui Emir Moeis Adik Kelasnya di SMA

Kompas.com - 01/04/2010, 20:49 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Mantan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Miranda Swaray Gultom mengaku tidak dekat dengan sejumlah anggota Komisi IX DPR RI periode 1999-2004. Namun, ia mengaku lebih kenal dekat dengan politisi PDI-P Emir Moeis karena dia adalah adik kelasnya sewaktu di SMA.

Miranda memang tak menyebut nama sekolahnya dengan jelas, tetapi lazim diketahui, Miranda adalah alumni SMAN 3 Jakarta sebagaimana Aburizal Bakrie dan lain-lain. "Saya lebih kenal dengan Emir Moeis karena dia adik kelas saya di SMA 3," kata Miranda saat bersaksi untuk terdakwa Dudhie Makmun Murod di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (1/4/2010).

Namun, Miranda membantah dirinya sempat berkomunikasi langsung dengan Emir sebelum pemilihan pejabat DGS BI yang dimenangkan dirinya. "Tidak pernah," bantahnya. Ia mengaku tidak tahu saat itu Emir menjabat Sekretaris Fraksi PDI-P.

Seperti biasa, Miranda juga mengaku lupa apakah Panda Nababan hadir saat pertemuannya dengan Fraksi PDI-P di Hotel Dharmawangsa menjelang pemilihan. Miranda juga membantah bahwa terpilih dirinya karena ada suap.

Miranda hanya mengaku, pada awalnya tidak berminat dengan tawaran BI soal pencalonannya karena saat itu tengah menikmati kehidupan bebas dengan menjadi dosen Universitas Indonesia, komisaris di Rabo Bank, serta menjadi pejabat di bank swasta milik Skotlandia.

Namun, mengingat dirinya pernah mendapat biaya pendidikan ke luar negeri dari pemerintah, Miranda mengaku merasa terpanggil untuk membalasnya. "Saya merasa berkewajiban untuk mengabdi sesuai kompetensi saya. Dan saya yakin punya kompetensi. Kedua, saat berpikir lebih jauh lagi, saya seharusnya berterima kasih dicalonkan, sesuai kemampuan saya," paparnya.

Ia membantah pertemuan dengan anggota Komisi IX dari Fraksi PDI-P di Hotel Dharmawangsa dan dari Fraksi TNI/Polri di Niaga Tower dianggap sebagai penggalangan dukungan guna meloloskan dirinya dalam pemilihan. Menurut dia, pertemuan yang berisi pemaparan visi dan misinya sebagai calon dirasa perlu agar anggota Komisi IX mengetahui kapabilitasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau