Uu bhp

BEM UNILA: Ditolak, Bukan Berarti Masalah Selesai

Kompas.com - 02/04/2010, 16:31 WIB

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com - Munculnya putusan Mahkamah Konstitusi (MK) menolak UU BHP bukanlah akhir dari perjuangan para mahasiswa. Dibatalkannya UU BHP bukan berarti permasalahan selesai begitu saja.

"Ini kan baru aturan induk. Masih ada aturan turunan lainnya yang perlu kita awasi," ujar Presiden BEM Universitas Keluarga Besar Mahasiswa Universitas Lampung Antomi Saregar, Jumat (2/4/2010).

Antomi memperkirakan, munculnya putusan MK sedikit banyak akan berdampak buruk bagi kelembagaan di perguruan tinggi. Banyak pimpinan perguruan tinggi yang akan kebingungan dalam menyikapi produk hukum MK ini.

"Sekarang ini banyak PT yang tengah menuju masa transisi menyiapkan BHP. Seperti Unila, sekarang transisi menjadi BLU. Dengan putusan MA itu, proses transisi ini kan kini jadi bermasalah," tambahnya.

Diberitakan sebelumnya, mahasiswa Unila menyambut baik putusan Mahkamah Konstitusi yang membatalkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan. Putusan ini menyiratkan, MK menolak praktik liberalisasi pendidikan.

Presiden BEM Universitas Keluarga Besar Mahasiswa Universitas Lampung Antomi Saregar mengatakan, putusan MK merupakan buah manis dari perjuangan mahasiswa dan sebagian elemen masyarakat yang selama beberapa tahun terakhir ini terus mengkritisi keberadaan UU BHP.

"Kali ini, MK menunjukkan pro dengan rakyat. Melalui putusan ini, ada indikasi bahwa MK memang menolak adanya praktik komersialisasi pendidikan. Seluruh materi UU ini kan juga dibatalkan," ungkap Antomi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau