DPRD Minta Pedagang Lawan Penggusuran

Kompas.com - 05/04/2010, 10:34 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com — Ketua Komisi A DPRD Surabaya Armudji meminta pedagang melawan penggusuran. Namun, itu hanya dilakukan bila penggusuran dilakukan sebelum Komisi A bertemu Pemerintah Kota Surabaya.

Armudji mengatakan, pihaknya akan memanggil pemerintah dulu. Dalam pemanggilan itu akan ditanyakan rencana penggusuran Pasar Keputran, Pasar Koblen, dan Pasar Peneleh. "Kalau sebelum pertemuan ada penggusuran, lawan saja," ujarnya saat menemui perwakilan pedagang yang berunjuk rasa di DPRD Surabaya, Senin (5/4/2010).

Seperti diberitakan, ratusan pedagang dari tiga pasar yang tergabung dalam Paguyuban Pedagang Pasar se-Surabaya (PPPS) berunjuk rasa di Gedung DPRD Surabaya, Senin. Mereka menolak rencana penggusuran pekan depan. Pedagang tiga pasar itu rencananya akan direlokasi ke Pasar Induk Oso Wilangon paling lambat 14 April 2010.

Mereka menolak pindah dari pasar sekarang yang terletak di pusat kota ke pasar baru yang terletak di pinggiran Surabaya. Selain itu, kios di pasar baru lebih sedikit dari jumlah pedagang. Di Pasar Induk Oso Wilangun, hanya tersedia 1.300 kios. Sementara di Keputran ada 2.000 pedagang. "Ke mana sisa pedagang lain akan berusaha. Kalau jualan di kaki lima lagi di pasar itu, buat apa kami pindah," ujar koordinator pengunjuk rasa, Edi Parli.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau