Kewirausahaan Jalan di Tempat

Kompas.com - 06/04/2010, 12:26 WIB

BANDUNG, KOMPAS - Iklim kewirausahaan di Jawa Barat lesu karena minimnya perhatian pemerintah provinsi. Tidak ada dukungan nyata terhadap pembibitan jiwa wirausaha melalui pendidikan formal. Padahal, bertambahnya jumlah pengusaha akan berdampak positif, terutama terhadap kemajuan ekonomi daerah.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Jabar Bidang Ketenagakerjaan, Sumber Daya Manusia, Pendidikan, dan Pelatihan Basit Subbahi, Senin (5/4) di Bandung, mengatakan, pengembangan jiwa kewirausahaan harus ditumbuhkan sejak dini. "Kami mendorong supaya pendidikan kewirausahaan bisa masuk pendidikan formal di SMA, setidaknya menjadi muatan lokal," ungkapnya.

Hal ini harus dijadikan terobosan untuk mengantisipasi rendahnya serapan tenaga kerja di sektor formal. Dengan demikian, lulusan SMA tak perlu risau jika tidak mendapatkan pekerjaan karena telah dibekali jiwa wirausaha yang mampu menciptakan lapangan kerja sendiri.

Mengutip hasil penelitian lembaga riset asing, Basit menerangkan, dari sekitar 210 juta penduduk Indonesia, yang terlibat dalam sistem kewirausahaan baru 0,18 persen. Dia memperkirakan jumlah wirausaha di Jabar baru sekitar 0,09 persen dari 44 juta penduduk provinsi ini. Padahal, salah satu indikator negara maju ialah jumlah wirausaha setidaknya 2 persen dari jumlah penduduk.

Pada awal kepemimpinannya Gubernur Jabar Ahmad Heryawan pernah menyatakan, peningkatan partisipasi kewirausahaan sebagai salah satu program di bidang pendidikan. Heryawan berharap munculnya pengusaha sukses di Jabar akan mendongkrak sektor ekonomi. Ia pun mengimbau Dinas Pendidikan dan Kadin Jabar bersinergi merumuskan kurikulum pendidikan kewirausahaan (Kompas, 28/5/2009).

Membebani SMA

Namun, Basit mengaku Kadin belum pernah dilibatkan dalam pembahasan hal tersebut. Padahal, karena menilai positif program Gubernur kala itu, Kadin Jabar langsung menyusun modul pembelajaran materi kewirausahaan bagi sekolah menengah. "Tapi, dukungan nyata tidak ada. Akhirnya, kami terpaksa menyelenggarakan pelatihan kewirausahaan secara mandiri karena menilai hal ini merupakan tanggung jawab moral kepada masyarakat," katanya.

Hingga kini telah diadakan dua kali pelatihan kewirausahaan yang diikuti sekitar 80 orang dari berbagai latar belakang pendidikan dan profesi. Kadin menargetkan bisa memberikan pelatihan kewirausahaan kepada 10.000 orang hingga 2014.

Saat dimintai konfirmasi, Kepala Dinas Pendidikan Jabar Wahyudin Zarkasy menjelaskan, pendidikan kewirausahaan telah dipraktikkan hampir di semua sekolah kejuruan di Jabar. Bahkan siswa SMK telah mengenal tidak hanya teori, tetapi juga berpraktik menjadi wirausaha sungguhan.

Terkait dengan permintaan Kadin untuk dilibatkan sebagai fasilitator dalam pendidikan kewirausahaan, Wahyudin berkilah, setiap SMK telah memiliki pasangan bisnis masing-masing. "Misalnya, SMK di bidang mesin punya partner industri otomotif, sedangkan SMK di bidang perawatan kecantikan bekerja sama dengan salon-salon besar. Sebab, institusi tersebut yang memberi tes praktik bagi calon-calon lulusan SMK tadi," ujarnya.

Mengenai pemikiran memasukkan mata pelajaran kewirausahaan ke dalam kurikulum SMA, ia menilai hal itu akan membebani siswa. Sebab, beban pelajaran di SMA lebih berat dibandingkan dengan SMK. "Untuk itu, kami mencari jalan keluar dengan memasukkan beberapa materi kewirausahaan ke dalam beberapa mata pelajaran yang sudah ada," katanya. (GRE)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau