Sekarang, "Kota" Gedong Namanya

Kompas.com - 06/04/2010, 22:52 WIB

KOMPAS.com - Wajah Zainul Arifin terlihat sumringah. Sosok berkacamata ini lebih sering menyapa warga yang dijumpainya.

Hari ini, Selasa (6/4/2010), pria humoris yang tak lain adalah orang nomor satu di Kelurahan Gedong, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur ini begitu asyik memaparkan program-program kerja samanya dengan pihak Frisian Flag Indonesia (FFI) di hadapan perwakilan warga dan Dewan Kelurahan.

Tercatat, ada tiga hal besar yang bakal menjadi bahan pengembangan yakni Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). "Yang ketiga adalah pendidikan dasar untuk budidaya jamur tiram," begitu kata Pak Lurah murah senyum itu.

Kelurahan Gedong, terang Zainul, kini didiami oleh 31.188 jiwa seturut data per 31 Desember 2009. Luas wilayahnya 263,4 hektar meliputi 117 Rukun Tetangga (RW) dan 12 Rukun Warga (RW). "Sekarang, tercatat ada 2577 anak balita (bawah lima tahun)," kata Zainul lagi.

Seperti diketahui, salah satu pabrik FFI memang terletak di wilayah Kelurahan Gedong. "Kami memang bagian dari warga kelurahan ini," kata HR & Corporate Affairs Director FFI Sri Megawati, dalam kesempatan tersebut.

Sementara itu, Zainul melanjutkan, di kelurahannya yang berbatasan dengan Kelurahan Tengah dan Balekambang, Kali Ciliwung, Kali Baru, serta Kelurahan Cijantung ini, tercatat ada 18 buah Posyandu. Ada pula 11 buah Posyandu PAUD serta 10 buah Posyandu untuk warga lanjut usia (lansia).

Zainul juga menceritakan, beberapa program yang sejatinya sudah berjalan sejak tahun lalu bekerja sama dengan FFI adalah pemberian susu untuk balita dan ibu hamil, pelatihan untuk seratusan kader gizi, serta budidaya jamur tiram tadi. Lalu, ada pula bantuan dana operasional per bulan untuk setiap Posyandu dengan besaran antara Rp 200.000 hingga Rp 300.000. "Ini untuk kesejahteraan warga Kampung Gedong," kata Zainul menekankan.

Pasar

Sementara itu, menurut informasi dari Wakil Lurah Kampung Gedong Chairil Anwar dalam kesempatan terpisah, ada sekitar 12 kelompok warga yang meminati budidaya jamur tiram (Pleurotus ostreatus). Di belakang kantor kelurahan pun, dibangun ruang untuk budidaya jamur ini. "Budidayanya gampang," imbuh Chairil.

Menurut penuturan Chairil, jamur dengan tudung berbentuk setengah lingkaran mirip cangkang tiram itu dikembangkan dengan media tanam sejenis serbuk gergaji. Media tanam yang sudah ditumbuhi jamur itu, lalu, disimpan di dalam ruangan kedap cahaya matahari. "Udara di dalam ruangan itu pun harus lembab," terang Chairil.

Menariknya, jamur yang bisa dijadikan penganan semisal keripik maupun nugget ini luar biasa pertumbuhannya. Kalau sudah panen, hasilnya bisa mencapai empat kilogram per hari.

Untuk sementara, baik pengakuan Zainul Arifin dan Chairil Anwar, hanya warga sekitar yang menjadi konsumen jamur ini. "Ada warga yang berjualan bakso yang membeli jamur ini untuk campuran menu," kata Khairil.

Ke depannya, memang sudah terpikirkan untuk memperluas pemasaran tidak hanya terbatas pada warga sekitar. Harapannya adalah jamur tiram dari Kampung Gedong bisa dijual pula di supermarket-supermarket yang letaknya amat dekat dengan wilayah kelurahan tersebut.

Sementara itu, warga juga punya keinginan agar program-program kesehatan masyarakat tadi beserta budidaya jamur tiram mampu mencuatkan nama kelurahan ke kancah lebih tinggi, semisal di ajang antarkecamatan maupun antarkotamadia di Jakarta. Tentunya, lagi-lagi dengan harapan, program-program tersebut tetap berkesinambungan. "Sekarang, biar orang menyebut 'Kota' Gedong, bukan lagi 'Kampung' Gedong," demikian Zainul Arifin.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau