Temanggung, Kompas
Kepala Dusun Gedekan Untung Sutrisno mengatakan, longsor terjadi sekitar pukul 20.00. Ketika itu, Sucipto beserta istri, Sartini (48), dan Anas bersiap untuk makan malam.
Saat Sartini keluar dari ruang makan untuk mengambil barang di kamar, tiba-tiba ia mendengar suara gemuruh. Begitu kembali ke ruang makan, ia pun histeris dan berteriak minta tolong karena melihat longsoran tanah merobohkan tembok belakang rumahnya. Mendengar itu, semua warga segera bergotong royong membersihkan longsoran tanah dan mencari Sucipto dan Anas. Jenazah kedua korban ditemukan pukul 20.30.
Aparat kepolisian membawa dua jenazah korban ke Puskesmas Ngadirejo untuk divisum. Dari hasil pemeriksaan dokter diketahui, korban meninggal karena patah tulang dan kekurangan oksigen.
Sartini yang selamat dari musibah untuk sementara diungsikan ke rumah seorang kerabatnya. ”Sartini masih syok berat,” kata Untung.
Kepala Seksi Perlindungan Masyarakat Kantor Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kabupaten Temanggung Agus Sudaryono mengatakan, Pemerintah Kabupaten Temanggung siap membantu merehabilitasi rumah korban. Dalam waktu dekat, pihaknya akan menyalurkan bantuan
Agus menuturkan, musibah ini kemungkinan dipicu oleh maraknya penambangan bahan galian C di sekitar dusun.
”Sebenarnya, sudah banyak dipasang papan larangan menambang. Namun, peringatan sama sekali tidak diindahkan,” kata Agus.