Empat Nama Ramaikan Bursa Calon Sekjen PDI-P

Kompas.com - 07/04/2010, 08:46 WIB

DENPASAR, KOMPAS.com — Empat nama elite partai meramaikan bursa pencalonan Sekretaris Jenderal PDI-P dalam kepengurusan periode 2010-2015. Mereka adalah Sekjen Demisioner Pramono Anung, Ketua DPP PDI-P Maruarar Sirait, anggota Fraksi PDI-P di DPR Ganjar Pranowo, dan Effendi Simbolon.

Nama-nama itu muncul sebagai wacana karena sekjen sendiri akan dipilih melalui hak formatur tunggal yang dimiliki ketua umum terpilih. Seolah sepakat, ketika dimintai konfirmasi, keempatnya menjawab secara diplomatis menyerahkan pilihan kepada Megawati Soekarnoputri, calon tunggal dan kuat ketua umum yang baru.

Hanya saja, dalam sidang paripurna kedua Kongres III PDI-P yang digelar di Hotel Inna Grand Bali Beach Sanur, Selasa (6/4/2010) malam, pimpinan sidang sementara, Frans Lebu ,Raya mengakui bahwa ada sekitar dua atau tiga Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang menyebutkan langsung nama Pramono Anung sebagai calon yang dianjukan untuk kembali menduduki posisi sekjen.

Pramono yang sempat ditanyakan kesiapan dan kesediaannya kembali untuk dipilih sebagai sekjen hanya nyengir dan enggan berkomentar. Komentar satu-satunya dilemparkan ketika ditanyakan apakah sekjen harus berasal dari generasi muda PDI-P.

"Memangnya saya sudah tua, ya?" ucap pria kelahiran tahun 1963 ini penuh makna.

Calon-calon baru

Sementara itu, tiga "pesaing" baru Pramono berasal dari kalangan muda PDI-P, tetapi kapasitas dan pengalaman politiknya tak bisa dipandang sebelah mata. Sebut saja nama Maruarar Sirait dan Ganjar Pranowo, yang cemerlang di Pansus Hak Angket Bank Century di DPR.

Begitu juga dengan Effendi Simbolon, yang aktif menjalankan fungsinya di Komisi VII DPR, komisi yang membidani bidang ESDM, riset dan teknologi serta lingkungan hidup. Effendi juga tercatat galak ketika persoalan kenaikan harga BBM oleh pemerintahan SBY jilid 1 mengemuka.

Ara, panggilan akrab Maruarar, tak mau berkomentar banyak soal kesiapan dan kesediaannya jika dipilih sebagai sekjen periode mendatang oleh ketua umum terpilih.

Bagi pria kelahiran tahun 1968 itu, yang terpenting adalah meneruskan cita-cita dan prinsip PDI-P, seperti yang termuat dalam pidato politik Megawati ketika membuka Kongres III kemarin pagi. Apalagi, tantangan partai begitu riil, seperti kemenangan pada Pemilu 2014, sementara partai juga menghadapi kesulitan administrasi dan keuangan.

"Jadi, siapa saja yang bisa bekerja sama dan membantu Ibu Mega, itu aspirasi daerah dan kebutuhan Ibu Mega saja. Mega tahu loyalitas dan profesionalitas kami, Mega bisa memilih tanpa intervensi siapa pun," katanya.

Ara yakin, Mega akan menilai berdasarkan ideologi, loyalitas, dan nilai tambah yang terdapat dalam diri seorang kader. Ara mengedepankan karakter konsisten sebagai salah satu nilai tambah.

Ganjar yang juga lahir tahun 1968 ini memiliki karier politik yang gemilang ketika duduk sebagai wakil rakyat dalam dua periode Dewan, 2004-2009 dan 2009-2014. Effendi juga mengembalikan keputusan terakhir kepada Megawati.

"Ibu akan memilih kaum muda, muda tapi juga lebih mapan, dewasa dalam berpolitik. Lebih khusus lagi bisa mengenali secara psikis dan manajerial bagaimana leadership Ibu Megawati, orang pintar dan mampu. Banyak kader, PDI-P gudangnya, tetapi yang bisa ada chemistry, tidak semua orang bisa," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau