Tjiptardjo Ditantang Targetkan 16 Persen Pajak

Kompas.com - 07/04/2010, 21:32 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com Anggota Panja Pajak, Nusron Wahid, memberikan tantangan kepada Ditjen Pajak untuk meningkatkan rasio pajak hingga mencapai 16 persen. Selama ini, rasio pajak hanya berada pada kisaran 13 persen. Angka ini tergolong rendah dibandingkan penerimaan pajak negara tetangga.

Nusron mengatakan, peningkatan target penerimaan pajak merupakan bukti keseriusan Ditjen Pajak melakukan pembenahan pascamerebaknya kasus dugaan mafia pajak yang melibatkan pegawai Ditjen Pajak, Gayus H Tambunan. "Kalau sudah tidak ada "Gayus-gayus" lain, mau yang gondrong, yang botak, maka tax ratio 16 persen seharusnya bisa jadi target. Pak Dirjen siap tidak dengan target itu?" tanya Nusron pada rapat dengar pendapat lanjutan dengan Panja Pajak di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (7/4/2010) malam.

Dirjen Pajak M Tjiptardjo mengungkapkan, siap atau tidaknya dengan tantangan tersebut, ia tak bisa memutuskan sendiri. "Penentuan target pajak tidak bisa sendiri. Saya harus koordinasi dengan BKF (Badan Kebijakan Fiskal) karena terkait dengan kebijakan fiskal. Harus ada koordinasi," ujarnya.

Namun, Tjiptardjo menyatakan siap jika memang sudah menjadi keputusan politik DPR dan pemerintah. "Saya ini hanya serdadu, prajurit. Siap melaksanakan kalau disetujui dewan dan pemerintahan. Kalau diputuskan, saya siap melaksanakan," ungkap Tjiptardjo.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau