Elite Demokrat Pilih Anas, Massa Akar Rumput Pilih Andi Mallarangeng

Kompas.com - 08/04/2010, 08:17 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Menjelang Kongres II Partai Demokrat, berbagai manuver dari para kontestan calon ketua umum menarik untuk disimak. Setelah sebelumnya terjadi ketegangan kecil akibat ada pelarangan sejumlah kader Partai Demokrat untuk hadir pada acara silaturahim yang digelar kontestan calon ketua umum Marzuki Ali, kini mereka mulai ribut soal survei elektabilitas.

Sebuah survei yang dilakukan LP3ES pada 1-20 Maret 2010 terhadap 481 pimpinan DPC dan DPD Partai Demokrat (PD) menunjukkan, jika ketiganya saling berhadapan pada kongres nanti, kontestan Anas Urbaningrum akan memeroleh suara pada kisaran 58,5 persen-72,5 persen, diikuti Marzuki Ali 22,9 persen, dan Andi Mallarangeng, 6,9 persen-7,3 persen. Hasil survei ini disampaikan kepada publik hari Rabu (7/8/2010) siang.

Pada Rabu malam, giliran kubu Andi yang mengeluarkan hasil survei Cirus. Survei ini dilaksanakan pada 1-7 Maret 2010 terhadap 1.240 responden dengan tingkat margin of error 2,8 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen. Hasilnya pun tampak kontras. Survei Cirus mendudukkan Andi Mallarangeng sebagai posisi puncak dengan perolehan suara 30,6 persen, diikuti Anas 22,2 persen, dan Marzuki Ali 2,6 persen.

Tidak hanya itu, Cirus pun melakukan survei terhadap peserta Pemilu 2009 yang memilih Partai Demokrat. Hasilnya, lagi-lagi, Andi Mallarangeng menempati posisi puncak dengan perolehan suara 35,6 persen, diikuti Anas 22,4 persen, dan Marzuki Ali 2,8 persen. Selain itu, bagi peserta Pemilu 2009 yang tidak memilih Partai Demokrat, sebanyak 26,7 persen memilih Andi, diikuti Anas 22 persen, dan Marzuki, 2,4 persen.

Dari dua survei di atas, dapat disimpulkan bahwa tingkat elite lebih menghendaki Anas menjadi ketua umum. Sementara di tingkat massa akar rumput, mereka menghendaki Andi tampil sebagai pemimpin partai pemenang pemilu. "Elite partai itu biasanya turun ke bawah dan harus mendengar aspirasi di tingkat akar rumput," ujar anggota Tim Sukses Andi, Choel Mallarangeng, Rabu malam di Wisma Proklamasi, Jakarta.

Hal senada disampaikan Wakil Ketua Dewan Pakar Partai Demokrat Panangian Simanungkalit. "Para elite harus mengutamakan keinginan massa akar rumput," katanya.

Sementara itu, anggota tim sukses Andi, Rahlan Nasidik, direktur Imparsial nonaktif, mengatakan, target Partai Demokrat untuk memperoleh 30 persen suara pada Pemilu 2014 sangat membutuhkan figur yang dapat diterima di masyarakat. "Dan figur itu Andi," katanya.

Choel menambahkan, survei pertama belumlah menunjukkan apa-apa. Dirinya yakin, survei lanjutan yang dilakukan LP3ES akan memberikan hasil yang berbeda. Menurut dia, ketika survei LP3ES diadakan, Andi belum mendeklarasikan diri serta terjun menyambangi kantong-kantong kader. "Jadi, tunggu saja survei kedua. Kita lihat siapa yang mempunyai momentum dan siapa yang kehilangan momentum," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau