Mama Theresia Pimpin Para Ibu Gerebek Gudang Miras

Kompas.com - 08/04/2010, 11:32 WIB

TIMIKA, KOMPAS.com — Para ibu rumah tangga di Timika, Papua, yang tergabung dalam wadah Kelompok Relawan Anti Miras (KRAM), Kamis (8/4/2010), menggerebek sejumlah gudang dan toko yang menjual minuman keras (miras) beralkohol.
     
Dalam penggerebekan itu, mereka menyita ratusan karton miras dari rumah pengusaha Irwanto "Titi" Teguh di Jalan Bhayangkara Koperapoka Timika. Aksi para ibu itu dipimpin Mama Theresia dan Leny Makai dari Yayasan Hak Asasi Manusia Anti Kekerasan (Yahamak) Timika.
     
Mama Theresia mengatakan, tindakan penggerebekan dan penyitaan miras dilakukan lantaran sudah ada kesepakatan semua elemen di Mimika bahwa batas waktu penjualan miras telah berakhir pada 31 Maret.
     
Meski sudah diberi batas waktu, ternyata para pengusaha miras di Timika masih menjual minuman memabukkan itu, seperti bir, vodka, mansion house, serta anggur.
     
"Kami terpaksa turun tangan untuk menyita semua miras karena razia polisi beberapa waktu lalu tidak memberi hasil yang memuaskan. Bahkan polisi tidak berani sita miras dari para pengusaha, ini ada apa?" tanya Mama Theresia.
     
Saat penggerebekan ke rumah Irwanto Teguh, para ibu sempat bersitegang dengan yang bersangkutan. Irwanto menilai ibu-ibu dari KRAM tidak punya wewenang menyita miras dari rumahnya. Selain itu, katanya, saat penggerebekan berlangsung,  ia tidak sedang melakukan transaksi jual miras ke konsumen.
     
"Mereka datang langsung geledah ke semua kamar rumah saya. Ini keterlaluan, terkecuali saya sedang menjual miras maka wajar mereka sita barang saya," ucap Irwanto.
     
Para ibu dari KRAM juga mendesak Irwanto membuka kunci gudang miras yang telah disegel oleh Satuan Narkoba Polres Mimika pada razia, Rabu (31/3/2010). Namun, permintaan mereka tidak dikabulkan lantaran kunci gudang miras milik Irwanto disimpan oleh Kasat Narkoba Polres Mimika Iptu Wisnu.
     
Menurut Mama Theresia, aksi penggerebekan dan penyitaan miras berbagai jenis akan terus dilakukan KRAM hingga Kota Timika benar-benar bersih dari miras dan orang mabuk. "Kami akan datangi semua gudang dan toko miras, termasuk di pasar yang menjual minuman lokal dan di Pelabuhan Paumako," ujarnya sembari menambahkan, miras yang disita akan dimusnahkan.
     
Ia menambahkan, peredaran miras yang tidak terkendali di Timika selama bertahun-tahun telah mengakibatkan timbulnya banyak masalah sosial, kriminalitas, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dan angka HIV/AIDS meningkat pesat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau