Direktur Perbaikan Darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Untung Sarosa, yang ditemui di Sinabang, mengatakan, dari hasil inspeksi singkat yang dilakukan tim BNPB, tidak ditemui adanya kerusakan parah akibat gempa berkekuatan 7,2 skala Richter, Rabu lalu. ”Laporan yang kami terima, hanya Kecamatan Teupah Barat dan Teupah Selatan yang cukup parah kerusakannya,” ujarnya.
Sebagaimana diberitakan, Rabu pukul 05.15 WIB Nanggroe Aceh Darussalam dilanda gempa berkekuatan 7,2 skala Richter. Pusat gempa di Kepulauan Banyak, sekitar 75 kilometer tenggara Sinabang, ibu kota Simeulue.
Menurut Sekretaris Daerah Pemerintah Kabupaten Simeulue Mohd Riswan, 25 rumah di Teupah Selatan roboh dan puluhan keluarga mengungsi. Di Sinabang, Rabu siang, kehidupan sudah berjalan seperti biasa. Warung dan toko tetap buka.
Kemarin secara umum kehidupan di Simeulue sudah berlangsung seperti biasa. Tenda- tenda pengungsian sepi karena warga sudah kembali ke rumah atau bekerja.
Normalnya aktivitas itu mulai tampak sejak Rabu malam. Ketika Bupati Simeulue meninjau gedung dinas pendidikan yang rusak akibat gempa, beberapa warga asyik latihan sepak bola dan pencak silat, seolah tidak terjadi apa-apa pada hari itu.
Dari pantauan Kompas di Pulau Siumat, salah satu pulau terluar yang berjarak sekitar satu jam perjalanan utara Sinabang, tidak tampak kerusakan parah. Di daerah itu memang ada satu gedung sekolah yang rusak akibat tertimpa pohon kelapa.
Di Kecamatan Teupah Selatan, dari belasan desa yang ada, hanya satu yang mengalami kerusakan cukup parah.
Sekretaris Desa Ulul Mayang—salah satu desa di Teupah Selatan—Sudirman menjelaskan, dari hasil verifikasi ulang terhadap kerusakan di wilayah itu, terdapat 12 rumah warga yang rusak berat. Dua di antaranya tidak dihuni saat gempa berlangsung. ”Mereka sedang berada di luar rumah saat itu,” tuturnya.
Selain itu juga ada empat bangunan yang rusak berat, yaitu pos pelayanan terpadu, balai pemuda, taman pendidikan Al Quran, dan meunasah atau langgar.
Rabu malam lalu, lanjut Sudirman, sekitar 72 keluarga mengungsi ke tempat penampungan sementara yang ada di samping Kantor Kepala Desa Ulul Mayang. Namun, kemarin siang semua pengungsi diimbau kembali ke rumah masing-masing. ”Tapi, tetap diminta waspada terhadap kemungkinan terjadinya gempa yang lebih besar,” ujarnya.
Keluarga yang rumahnya rusak berat, menurut Sudirman, juga diminta waspada. ”Seluruh bantuan sudah disalurkan kepada mereka,” lanjutnya.
Untung Sarosa menyatakan, pada masa tanggap darurat, BNPB akan melakukan pengkajian cepat terhadap infrastruktur, baik perumahan maupun lainnya. ”Terutama, nilai kerugian yang ditimbulkan,” ujarnya.
Selain itu, BNPB juga akan menetapkan status kebencanaan setelah melihat kondisi lapangan. Selanjutnya, BNPB mendorong pemerintah provinsi turun tangan membantu menangani program rehabilitasi dan rekonstruksi. ”BNPB akan memberikan bantuan teknis,” tutur Untung.
Tahap pertama masa tanggap darurat, lanjutnya, TNI dan Polri dibantu masyarakat melakukan pembersihan terhadap reruntuhan bangunan di lokasi bencana.