Handoko (70) ingat betapa riuhnya Pasar Cikini Ampiun, Jakarta Pusat, tahun 1970-an. Ketika itu, dia bahkan tidak sempat makan siang karena sibuk melayani pembeli. Peristiwa itu tinggal memori. Selang 30 tahun kemudian, kondisi pasar berubah drastis. Pedagang kini punya banyak waktu untuk mengobrol atau mendengarkan radio.
”Kini banyak waktu longgar,” kata pedagang bakso itu.
Bakso adalah satu dari ribuan jenis barang dagangan di pasar tradisional yang mudah ditemui di supermarket atau pasar modern besar di ibu kota. Beragam merek dan harga hadir di pasar- pasar tersebut. Pembeli juga bisa membeli bakso satu kemasan kecil di aneka pasar modern di hampir setiap ruas jalan.
Maraknya pasar modern terasa sejak awal tahun 2000-an. Cabang demi cabang pasar mulai dibuka. Ada pula yang mengandalkan waralaba. Hingga tahun 2008, ada lebih dari 100 pusat perbelanjaan, lebih dari 200 supermarket, dan lebih dari 600 minimarket. Belum lagi
Jarak antara pasar tradisional dan modern pun tidak lagi dalam ukuran belasan kilometer. Cukup berjalan kaki saja dari pasar tradisional, sudah tiba di pasar modern. Tentu saja, dengan fasilitas yang lebih, seperti lantai keramik, kering, dan berpendingin ruangan. Misalnya, Pasar Cikini Ampiun yang sedikitnya diapit dua supermarket raksasa. Begitu pula Pasar Senen yang beradu pandang dengan mal plus supermarketnya.
Tidak sulit lagi mencari barang yang dulu diperoleh di pasar tradisional. Para pedagang pun mulai merasakan dampak serbuan pasar modern itu.
”Dua tahun lalu, gampang cari pemasukan Rp 500.000 per hari. Sekarang paling-paling Rp 100.000 per hari,” kata Handoko, bapak lima anak itu.
Kini, dia bertahan dengan menyeleksi rasa bakso. Rasa itulah yang pelanggannya tetap memburu bakso ke kiosnya di Pasar Cikini Ampiun.
Kualitas sayur juga menjadi andalan Adas (58), pedagang sayur di Cikini Ampiun. Sayur segar dengan kualitas prima menjadi andalan sekaligus membuat pembeli terkesan dengan barang dagangan di pasar tersebut. Ada sedikit selisih harga untuk
”Tiap kali kulakan ke Pasar Senen atau pasar lain, saya selalu minta sayur yang kualitas terbaik. Kalau ada cacat sedikit, tidak saya terima. Ini tuntutan pembeli,” ucap Adas, pedagang sayur selama 37 tahun terakhir.
Kualitas itulah yang membuat Adas bertahan ketika pasar- pasar modern menjual sayur secara eceran. Pembeli yang mengutamakan kesegaran sayur umumnya tetap memburu sayur di pasar tradisional. “Salah satu pelanggan adalah Istana Negara. Mereka memesan singkong, pisang, atau ubi. Semua yang kualitas super,” kata Adas.
Namun, apa pun kiat mereka belum tentu langgeng pada tahun-tahun mendatang. Apalagi, ekspansi pasar modern—tentu saja diikuti dengan modal yang kuat—tidak berhenti.
Regulasi pendirian pasar modern juga longgar sehingga mudah bagi pemodal untuk menambah cabang-cabang pasar mereka sehingga gurita pasar modern kian mencengkeram.
Perubahan tentu dibutuhkan dalam penataan pasar tradisional agar mampu bersaing dengan pasar modern. Apalagi, 85 dari 153 pasar tradisional berusia lebih dari 20 tahun, dan 12 pasar di antaranya berumur 30 tahun lebih.
Renovasi pasar secara menyeluruh berlangsung di beberapa pasar saja. Jadi, 95 pasar mengalami kerusakan berat
Belum lagi konflik antara pedagang dan PD Pasar Jaya selaku pengelola pasar, yang terjadi di sejumlah tempat. Persoalan retribusi, rencana renovasi pasar, serta pelayanan pasar selalu menjadi pangkal demonstrasi pedagang memprotes kebijakan PD Pasar Jaya.
Di sisi lain, pedagang juga berharap mendapatkan perbaikan gedung pasar yang menjadi tempat berdagang. Tentu saja dengan harapan perdagangan di pasar tradisional bisa bersaing dengan pasar modern.
Membenahi pasar tradisional bukan semata urusan pembangunan fisik. Ada kebutuhan untuk menjalin komunikasi dengan semua pihak termasuk para pedagang. Selain itu, ada juga kebutuhan untuk mendapatkan perlindungan dari pemerintah lewat pembatasan menjamurnya pasar modern dengan barang dagangan yang sama dan serupa dengan dagangan di pasar tradisional.